REVIEW FILM INDIA SHAKUNTALA DEVI (2020)

SHAKUNTALA DEVI adalah kisah tentang seorang jenius matematika dan hubungannya yang rumit dengan putrinya. Di awali dengan usaha Anupama yang sedang menghadap pengacara untuk menuntut Shakuntala Devi, ibunya, yang diduga telah menghancurkan kehidupan pribadinya. Kisahpun bergulir ke masa lalu. Masa tahun 1930-an di sudut desa terpencil Bangalore India.

Shakuntala Devi (Araina Nand) berusia 5 dan tinggal di Bangalore bersama keluarganya. Saudaranya Srinivas (Ahan Nirbhan) menemukan bahwa ia dapat memecahkan masalah matematika yang rumit dengan sangat mudah. Ayah Shakuntala (Prakash Belawadi) menyadari bahwa ia dapat melakukan pertunjukan matematika bersama anaknya untuk memikat penonton dan bisa mendapatkan uang. Dia mulai mengekploitasi Shakuntala dan menjauhkannya dari pendidikan formal di sekolah. Alasannya sederhana, Shakuntala terlalu cerdas untuk sekolah. 

Shakuntala setuju, tetapi sejak saat itu dia mulai membenci ayahnya karena keegoisannya. Dia juga merasa kesal dengan ibunya (Ipshita Chakraborty Singh) yang tak pernah menegur ayahnya. Saudara terdekat Shakuntala adalah Sharada (Jiya Singh) yang lumpuh. Suatu hari Sharada meninggal karena kurangnya perawatan medis. Ayahnya berpendapat bahwa dia tidak punya cukup uang untuk membawanya ke dokter. Ini membuat Shakuntala marah. 

Dua dekade kemudian, Shakuntala (Vidya Balan) melarikan diri ke London setelah menembak pacarnya yang berusaha menipu Shakuntala. berharap dia bisa menggunakan bakatnya untuk menghasilkan uang. Setelah penolakan awal, dia akhirnya mendapat kesempatan untuk menunjukkan bakatnya melalui bantuan Javier (Luca Calvani), seorang anggota komunitas matematika. Javier juga membantu bahasa Inggris Shakuntala. 

Bagaimana kisah selanjutnya, hingga terjadi perselisihan antara Shakuntala VS Anupama yang berujung ke meja hijau? Saksikan sendiri kisah Shakuntala Devi dalam 2 jam 7 menit durasinya.

~o0o~

Kisah yang ditulis Anu Menon dan Nayanika Mahtani cukup unik. Banyak yang tidak tahu tentang kehidupan pribadi Shakuntala Devi dan keretakan hubungannya dengan putrinya. Skenario Anu Menon dan Nayanika Mahtani sangat menghibur. Terlihat keras para penulis telah mencoba cara yang terbaik untuk memastikan film ini menarik. Mungkin narasinya mainstream, namun kontennya bisa sangat mengejutkan bagi penonton. Karakter utama wanita digambarkan sangat progresif, ambisius dan melanggar semua norma yang lazim di India. 

Anu Menon patut dipuji. Dia menjaga durasi hanya 2 jam 07 menit. Anu mencoba untuk mengemas sebanyak mungkin kisah hidup Shakuntala dengan cara yang rapi dan ringkas. Banyak hiburan dan sentuhan drama untuk menjaga ketertarikan penonton. Dan yang paling penting, dia tidak membuat biopic biasa seperti yang akhir-akhir ini terjadi di Bollywood. 

SHAKUNTALA DEVI adalah film biografi langka yang tidak hanya menyoroti kelebihan tokoh utama, tetapi juga kekurangannya. Di sisi lain, alur bolak-balik yang terjadi membuat perkembangan karakter terlalu cepat dan beberapa adegan tidak mendapati simpulan yang logis. Misalnya, karakter Paritosh hilang di 30 menit terakhir.

SHAKUNTALA DEVI dimulai dengan sangat dramatis, saat Anupama dewasa akan menuntut ibunya sendiri. Adegan ini sungguh sangat menarik perhatian dan membuat orang penasaran. Film kemudian beralih ke mode kilas balik yang menggambarkan kehidupan Shakuntala sebagai seorang anak dan bagaimana kecakapan matematikanya mulai diekploitasi. Adegan di mana dia melakukan pertunjukan matematika pertamanya di sebuah sekolah, sangat menarik. Namun semuanya menjadi lebih baik ketika dia pindah ke London. Adegan di mana dia menakuti para pria teman kosnya tentang apa yang dia lakukannya pada mantan pacarnya. Juga, cara di mana Javier dan Shakuntala menjadi dekat. Itu lucu dan membuat film ini terasa segar. Adegan saat Shakuntala membuktikan bahwa komputer salah dan dia yang benar, adalah hal yang paling sangat berkesan.

SHAKUNTALA DEVI adalah Vidya Balan, tanpa perlu diragukan sedikit pun. Dia jarang membuat kecewa penontonnya, dan film ini pun begitu. Dia sangat berkarakter dan konsisten dengan gayanya. Ekpresi komiknya, tawa yang tulus, atau bagaimana ketika dia marah, dan lain sebagainya. Semua sukses membuat kinerjanya layak mendapatkan penghargaan!. Meski adegan saat Shakuntala remaja agak tidak sesuai umur, namun penampilan Vidya Balan mampu meyakinkan penonton.

Sanya Malhotra memiliki peran penting dan meskipun beberapa terlihat berlebihan, dia bisa menunjukkan bakat aktingnya di sebagian besar durasinya. Dia cukup alami dalam adegan penting, saat di mana dia menyadari bahwa dia juga menjadi seperti ibunya. Amit Sadh mampu memberikan dukungan yang cukup penting bagi karakternya. Jisshu Sengupta lumayan, karakternya cukup menantang dan dia berhasil mengesankan. Spandan Chaturvedi (Shakuntala usia 12 tahun) sangat ekpresif dan penuh percaya diri. 

Musik dari duo Sachin-Jigar cocok dan penempatannya cukup pas dalam menghiasi film ini. 'Pass Nahi Toh Fail Nahi' dimainkan pada kredit akhir dan sangat menarik. 'Rani Hindustani' , 'Jhilmil Piya' dan 'Paheli' bekerja dengan baik di film meski tak memiliki dampak banyak. Sinematografi Keiko Nakahara sederhana dan rapi, dipadu Kostum dari Niharika Bhasin yang sangat luar biasa. Dengan berbagai jenis model dan gaya berpakaian Shakuntala selama bertahun-tahun, digambarkan dengan sangat indah dan otentik. Desain rambut dan make-up Vikram Gaikwad dan Shreyas Mhatre juga sukses menambah kualitas film ini.

Secara keseluruhan, SHAKUNTALA DEVI, bekerja sangat baik karena kinerja seluruh tim produksi dan jajaran pemain yang luar biasa. Dan tentu saja, penghargaan akting layak disematkan kepada Vidya Balan.
 
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url