BALA (2019) DAN 12 PESAN MORAL YANG DIBAWANYA

Kualat. Itulah kata yg pantas untuk Balmukund Shukla alias Bala. Bala kualat karena telah membully gurunya yang botak dan Latika, teman masa kecilnya. Bala menerima Balak (Karma), yaitu rambut rontok hingga botak di usia yang sangat dini. Beberapa cara dilakoninya untuk menumbuhkan rambutnya. Benar-benar bikin ngakak saya dan penonton lainnya di sepanjang durasi film.

Semua usahanya  ternyata tidak membantu kesuksesan cintanya, bahkan berujung tuntutan pembatalan pernikahannya plus pencemaran nama baiknya di media. Saat kejujuran diungkapkan semua sudah terlambat. Tapi belum terlambat untuk menerima diri apa adanya.


Ada beberapa hal menarik yang dikupas film ini karena menurut saya sangat dekat dengan keseharian kita. Bahkan Bala terasa sangat "Indonesia".

Berikut beberapa pesan moral dari film BALA yang bisa saya himpun spesial untuk anda :

1. Walau bagaimanapun, kejujuran itu yang terbaik, kepalsuan itu racun.

2. Penampilan itu penting, tapi bukan yang terpenting. Inner beauty itu baik, tapi bukan yg terbaik. Harus imbang keduanya.

3. Semua orang punya sisi lemah/buruk, ada baiknya menerima orang/diri kita sendiri apa adanya. (Pari~Yami Gautham, yang cantik, tidurnya ternyata ngorok juga)

4. India sama dengan kebanyakan daerah di Indonesia masih menganut patrilinialisme. Kedudukan lelaki masih dianggap lebih tinggi dari wanita.

5. Menjadi diri sendiri lebih baik dan lebih bahagia secara psikis.

6. Bullying dan body shaming, 2 hal kekinian yg sedang marak terjadi di dunia maya dan nyata.

7. Transplantasi atau operasi pada tubuh manusia akan berdampak negatif pada penderita diabetes.

8. Diabetes dan kebotakan bisa menurun secara genetik.

9. Cinta tidak selalu melulu fisik, Ayah Ibu Bala bisa bertahan 30 tahun karena bisa saling terima apa adanya masing-masing.

10. Dalam dunia periklanan, yang disebut cantik itu hanya yang berkulit putih.

11. Kalau tidak bisa diubah, mengapa harus berubah?# quotes yang sama dengan " jadilah diri sendiri".

12. Apa yang dibuat Tuhan adalah yang terbaik. Meski cuma kecil prosentasenya, operasi plastik/transplantasi, atau penambahan/perubahan organ tubuh tetap akan mempunyai efek samping, seperti alergi, dan dampak negatif lainnya.


Kekuatan film ini ada di skripnya. Skripnya sangat padat berisi dan lebih menarik dibandingkan dengan film Ayushmann sebelumnya. Standar untuk Ayushmann sama saat saya melihat SRK dan Rajkumar Rao. Mungkin belum bisa memuaskan semua orang. Bagus saja, tapi belum spektakuler. Saya masih menunggu peran lainnya. Tapi hal yang paling mencengangkan adalah cara dia stand up komedi, menirukan gaya dan suara SRK, mirip banget.

Film juga ditutup dengan manis oleh Badshah lewat Don't  Be Shy Again.

Karakter Bhumi Padnekar dan Yami Gautham dibawakan sangat apik oleh keduanya, pas, dan gak berlebihan, yang menjadikan film ini sangat hidup.

So wajib tonton ya guys!😍😍😍

------
Artikel ini telah diposting oleh Gunawan (Surabaya) di group Facebook BMCI dan BMCI Jatim pada tanggal 12 Nopember 2019.
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url