Review Film: The Empire, Kisah Berdirinya Dinasti Moghul

The Empire, diadaptasi dari novel 'Empire of the Moghul' karya Rutherford oleh Bhavani Iyer dan AM Turaz. Film seri disutradarai oleh Mitakshara Kumar dengan didukung para pemain ternama seperti Dino Morea, Shabana Azmi, Dhristi Dhami dan Kunal Kapoor serta beberapa pemain lainnya yang tak kalah menarik. 


Film berlatar belakang sejarah ini bukan film dokumenter, juga bukan sebuah kebenaran atas apa yang terjadi di masa lalu. Seperti bukunya, The Empire adalah fiksi sejarah, yaitu fiksi yang disusun berdasarkan kisah yang benar-benar terjadi di masa lalu berdasarkan imajinasi penulis, sutradara dan produser. Beberapa tokoh utama adalah tokoh yang pernah tercatat dalam literatur sejarah. Selebihnya adalah tokoh imajinasi rekaan penulis yang sengaja dibuat untuk menggulirkan narasinya.

Sejak pertama trailer resminya dirilis, para penonton langsung membandingkannya dengan karya Bhansali atau Game of Thrones yang populer itu. Memang ada beberapa bagian yang sama dengan film-film yang disebutkan tadi. Akan tetapi bagi saya, sebuah karya seni, meskipun ada dalam kerangka perbandingan, tetap saja seni itu merupakan ekspresi artistik dari individu yang membuatnya. 

Review Film: The Empire

Saya tidak melihat The Empire sebagai usaha seorang Mitakhsara (sutradara) untuk meniru karya-karya Sanjay Leela Bhansali.  Bisa jadi memang terinspirasi, karena Mithaksara pernah bekerjasama dengan Bhansali. Namun, bukan berarti meniru. Pada beberapa bagian memang akan mengingatkan penonton pada karya-karya SLB.

Bagi mereka yang ingin menonton sesuatu yang setara Game of Thrones, dapat saya pastikan anda akan kecewa. Karena The Empire ini bukan pertunjukan sebesar itu. Film ini hanyalah sesuatu yang lain dan berbeda untuk menjawab Hollywood dengan GoT-nya. 

The Empire adalah film India, yang dikerjakan dengan cara India, dan dilakukan oleh orang-orang India. Sebagaimana kita tidak bisa membandingkan film drama Dilwale Dulhaniya Le Jayenge (Bollywood) dengan Titanic (Hollywood). The Empire berada di genre yang sama dengan GoT, seperti Apel Batu (Malang) vs Apel Newzealand.

Hal pertama yang menarik bagi saya adalah tampilan visualnya. Bukan VFX-nya loh ya.. bukan itu. Tapi tampilan gambar, cara pengambilan gambar, kostum, aksesoris, dan setting lokasinya. Kalo untuk VFX-nya tidak menarik sama sekali, bahkan terkesan kaku. Istana, kastil, dan bangunan yang dibuat VFX-nya kasar. Meski ada juga VFX yang terlihat bagus. Namun secara keseluruhan VFX kurang memuaskan. 

Keindahannya justru berhasil diciptakan pada properti dan setting lokasi.

Struktur biru Timurid yang megah, nuansa pirus dan nila, adalah simbol kerajaan Timurid dan warna Uzbekistan yang dominan bahkan hingga hari ini. Detailnya arsitektur yang rumit, kamar tidur yang mewah, taman yang terawat dengan indah, jalan-jalan berbatu di pelosok desa,  hutan, danau, bahkan tempat berkemah pasukan di tepi danau itu dirancang dengan sangat indah dan hati-hati.

Hal lain yang cukup jadi perhatian adalah dialog antar tokoh-tokohnya. Televisi dan bioskop Asia Selatan memiliki kecenderungan untuk membuat semua karakter Muslim terdengar seolah-olah mereka memiliki gelar PhD dalam sastra Urdu. Gaya berbicaranya seperti puisi. Dialognya sangat bergaya dan terkadang cukup 'nylekit' dengan cara yang elegan. Tidak semua orang menyukai gaya ini. Akan tetapi, saya sangat menikmatinya.

Sebuah gambar diam dari<em> The Empire</em>.

Setelah menyaksikan 8 serinya, saya mendapati bahwa film The Empire ini adalah perpaduan antara sinetron epik dan film Bollywood kolosal. Pada beberapa bagian terlihat seperti sinetron; musik dramatis, kamera zoom, dan beberapa emosi yang berlebihan. Kesannya agak lambat, khususnya di 3 episode pertama. Namun,  di episode selanjutnya, The Empire menemukan ritme-nya; kecepatan narasinya mulai pas seiring cerita dan perkembangan para karakternya. Begitu Anda mengenal para karakternya, cerita terasa semakin menarik. 

Konflik batin para tokoh utama dan orang-orang disekitarnya dapat membawa penonton untuk lebih mendalami jalan ceritanya. Bagaimana Babur yang lembut berubah beringas, atau Khanzada yang begitu membenci Shaibani, namun pada akhirnya luluh. Atau rasa bersalah Daulat Begum yang harus dia tanggung hingga akhir hidupnya. Semua konflik itu menyatu dalam jalinan cerita The Empire.

Bintang pertunjukan ada pada desain set, make up, kostum yang indah, Dino Morea, dan Shabana Azmi. Dhrasti Dhami juga cukup mencuri perhatian. Kunal Kapoor sebagai tokoh utama telah melakukan tugasnya dengan baik. Akan tetapi pesonanya masih kalah dan dibawah seniornya. 

Saya berharap bisa menyaksikan kembali akting Dino Morea di film-film selanjutnya. Keren.

Sinopsis Film: The Empire

Ceritanya tentang Babur, seorang raja muda kerajaan Fergana yang mencoba menaklukkan kerajaan Samarkand. Dalam usianya yang masih muda, dia harus menghadapi bahaya musuh internal dan juga ancaman dari luar; Shaibani Khan. Bisa dikatakan bahwa ini adalah prekuel dari kerajaan Mughal. Sebelum dia menjadi Raja besar, pendiri dinasti Mughal. 

Usianya masih 14 tahun ketika Babur diangkat menjadi raja Fergana (Uzbekistan). Hal itu terjadi karena sang ayah wafat dalam sebuah 'kecelakaan'. Dalam usianya yang masih muda, Babur dibimbing oleh Daulat Begum (Shabana Azmi) dan kakak perempuannya, Khanzada (Drashti Dhami). 

Untuk memperluas wilayahnya, Babur ingin menguasai kerajaan tetangganya, Samarkand. Namun, saat Babur dan pasukannya menyerang Samarkand, di kerajaan Fergana justru mendapat serangan dari seorang perampok yang ingin menjadi raja, yaitu Shaibani Khan (Dino Morea). Terpaksa Babur bertahan di Samarkand.

Shaibani yang haus kekuasaan menyerang kerajaan Samarkand. Babur dan seluruh keluarga dan pasukannya mencoba bertahan dari serangan Shaibani. Karena kehabisan bahan makanan, Babur harus mengakui keunggulan Shaibani.

Shaibani akan membebaskan keluarga Babur, dengan syarat Khanzada bersedia menjadi istrinya dan tinggal di Samarkand. Khanzada menyetujui permintaan Shaibani demi menyelamatkan keluarga dan sisa-sisa pengikutnya.

Meski dengan perasaan bersalah, Babur harus meninggalkan istana dan kakaknya. Rasa bersalah ia lampiaskan dengan mabuk-mabukan. Ibundanya pun sampai stress dan sakit-sakitan.

Dalam keterpurukan itu, Babur mendapat perhatian dari Maham, putri dari panglima perangnya. Maham dan orang-orang terdekatnya berusaha memulihkan kembali semangat Babur.

Sementara di istana Samarkand, Khanzada terus menunjukkan reaksi perlawanan terhadap Shaibani. 

Bagaimana kisah selanjutnya? Dapatkah Babur merebut kembali tahtanya yang telah hilang? Saksikan The Empire, tayang streaming di Disney+Hotstar sejak 27 Agustus 2021. .
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url