Review Film: Bhuj The Pride Of India

FilmIndia.my.id --Bertepatan dengan momen perayaan hari kemerdekaan Republik India, film berjudul Bhuj: The Pride Of India tayang mulai tanggal 13 Agustus 2021 di jaringan Disney+ Hotstar. Film bertema perang ini dibintangi oleh Ajay Devgn, Sanjay Dutt, Sonakshi Sinha, dan Nora Fatehi. Disutradarai oleh Abhisek Dudhaiya, Bhuj: The Pride Of India menggunakan latar belakang tahun 1971 saat perang India-Pakistan.


Diangkat dari kisah nyata tentang perjuangan pasukan angkatan udara di pangkalan udara Bhuj, film ini ingin menggugah rasa patriotisme penonton melalui film. Bagaimana hasil ulasannya setelah kami menonton film ini? 

Sinopsis Film: Bhuj The Pride Of India

Pada tanggal 8 Desember 1971, pangkalan udara Bhuj di India mendapat serangan mendadak dari pasukan udara Pakistan. Serangan itu berhasil memporak-porandakan Bhuj. Kapten Vijay Karnik (Ajay Devgn) berhasil selamat dari serangan itu dan berusaha memulihkan Bhuj secepat mungkin, agar India siap menghadapi serangan berikutnya.

Cerita mundur ke 5 hari sebelum serangan, 3 Desember 1971. Saat mata-mata India (agen RAW) di Pakistan, Heena Rehman -diperankan oleh Nora Fatehi, berusaha menguping rapat rahasia di rumah dinasnya. Heena Rehman adalah istri dari pejabat tinggi di markas Pakistan. Heena sempat mengirimkan bocoran rencana serangan itu. Namun naas, aksinya ketahuan, dan menyebabkan dia tertangkap.

Pesan yang dikirim Heena diterima oleh Ranchordas (Sanjay Dutt). Segera Ranchordas memberi kabar ke markas besar Tentara India di Delhi. Bersama komandan RK. Nair (Sharad Kelkar), Ranchordas berupaya sekuat tenaga untuk menghambat serangan tentara Pakistan.

Kembali pada kejadian tanggal 8 Desember 1971, Pangkalan Udara Bhuj yang dipimpin Kapten Vijay Karnik, yang telah diserang di pagi hari, dia mendapatkan informasi dari mata-mata bahwa tentara Pakistan telah menyiapkan serangan darat, udara, dan laut untuk melumpuhkan Bhuj dalam 24 jam mendatang.

Dalam tempo 24 jam tersebut, Vijay Karnik harus menyiapkan pangkalan yang rusak agar pasukan India bisa mendarat dengan selamat di pangkalan Bhuj. Masalahnya, tak ada material dan tenaga kerja yang bisa membangun landasan udara yang rusak. Untuk itu, Vijay meminta bantuan warga sipil untuk membangunnya. 

Dibantu oleh Sunderben (Sonakshi Sinha) yang mampu menggerakkan 300 lebih warga sipil untuk membantu Vijay, mereka berusaha sekuat tenaga dengan peralatan seadanya membangun kembali landasan udara yang rusak parah. Dalam waktu kurang dari 24 jam.

Apakah usaha Vijay, Ranchordas, Nair, dan Sunderben bisa berhasil menjaga kedaulatan India?

Saksikan Bhuj: The Pride of India di Disnye+ Hotstar mulai tanggal 13 Agustus 2021.

Review Film: Bhuj The Pride Of India

Kisah-kisah perjuangan tentang peristiwa yang mengilhami Bhuj: The Pride of India ini sulit ditemukan di situs web berita manapun. Beberapa dokumentasi tentang kejadian yang terkait dengan film tersebut sebenarnya cukup membingungkan. Dalam perang India-Pakistan tahun 1971, bom Pakistan dilaporkan menghancurkan pangkalan Angkatan Udara India (IAF) di Bhuj. Pemimpin Pasukan Vijay Karnik dari IAF, yang ditempatkan di Bhuj, diminta untuk membangun kembali landasan tersebut sehingga pesawat militer India dapat mengangkut tentara ke pangkalan untuk mempertahankannya dari serangan lebih lanjut. Halangannya adalah tidak ada tenaga kerja yang tersedia dari dalam pasukan pertahanan untuk pekerjaan itu. 

Karnik mendekati penduduk desa terdekat untuk meminta bantuan. Menurut media, sekitar 300 warga sipil, yang kebanyakan wanita, secara sukarela membangun kembali landasan pacu tersebut dalam waktu 72 jam. Penulis-sutradara Abhishek Dudhaiya dan rekan penulisnya memoles untuk kepentingan narasinya agar cukup mengesankan menjadi 24 jam. 

Terlepas dari fakta sejarah tersebut, sebagai penikmat film, kami akan mengulasnya dari sisi film saja, bukan dari sisi sejarah atau apapun. Akan tetapi murni dari sisi film sebagai salah satu media hiburan.

Dari sisi cerita, sebenarnya Bhuj: The Pride of India memiliki potensi menarik jika ditangani dengan tepat. Akan tetapi, banyaknya karakter utama yang terlibat di dalam cerita ini tidak mendapatkan kesempatan banyak untuk bisa memikat penonton. Atau setidaknya membuat penonton merasa terikat dan mengenal karakter tokohnya lebih dekat. Tokoh-tokoh itu, serta kejadian yang mengikuti karakternya, disampaikan secara narasi. Persis seperti sebuah film dokumenter. Atau sandiwara radio.

Kami yang bukan orang India, yang tidak terikat dengan latar budaya kebangsaan India, tentu saja tak tahu menahu tentang tokoh-tokoh tersebut.  Sejarah kejadiannya pun tak pernah kami kenali sebelumnya. Sebagai sebuah hiburan, Bhuj gagal menyampaikan kisah heroiknya kepada penonton yang bukan orang India.

Paruh pertama pada narasinya digunakan untuk mengenalkan tokoh dan kejadiannya. Sedangkan paruh kedua berkutat pada usaha para tokoh utama untuk menyelamatkan Bhuj. Durasinya yang tak sampai 2 jam, membuat beberapa adegan terasa terlalu cepat. Namun, pada bagian lain terasa lambat. Juga penempatan lagu Hanjugam yang dinyanyikan oleh Jubin Nautiyal, terasa sekali sangat dipaksakan.

Ajay Devgn sebagai Kapten Vijay Karnik, masih setia dengan gayanya. Berjalan menuju suatu tempat, dengan gerak lambat dan latar belakang ledakan bom serta mayat bergelimpangan. Bagi sebagian orang, mungkin itu keren. Bagi kami, itu membosankan. Apa tidak ada cara lain untuk menampilkan seorang hero, selain dengan gaya slow-motion tersebut?

Sanjay Dutt, Sonakshi Sinha, Ammy Virk, Sharad Kelkar, Nora Fatehi, dan Pranitha Subash, mungkin telah melakukan kemampuan terbaiknya. Akan tetapi karakterisasi mereka tak punya cukup waktu untuk dijelaskan dan memikat penonton. Mereka hadir bersliweran hanya untuk kepentingan narasinya. Tak lebih.

Nora Fatehi sebagai agen RAW Heena Rehman, kehadirannya cukup mengobati berbagai kekurangan film ini. Bagian-bagian gambarnya cukup mendapatkan penanganan yang lebih baik dibanding lainnya. Adegan antara Heena Rehman dan suaminya mengingatkan saya pada film Raazi (2018) yang diperankan oleh Alia Bhatt. Penokohannya pun mirip.

Kegagalan pada narasi, diperparah dengan Visual FX yang disajikan. Adegan pertempuran udara yang seharusnya bisa memicu adrenalin, sukses terlihat seperti adegan perang dalam game pertempuran pesawat. Koreografi dan ledakan-ledakan bomnya di beberapa bagian terlihat kacau. Bom meledak dimana, pasukannya lari kemana... sama sekali tak terkendali. Kacau balau. Final scene yang seharusnya menjadi adegan spektakuler itu, pun sama kacaunya. 

Ok, fix. Kami sedang menonton film India. Sebuah film Bollywood, bukan Hollywood.

Penutup 

Untuk para pecinta Ajay Devgn, bersiaplah kalian kecewa dengan film ini. Ajay Devgn sukses menghamburkan uangnya untuk memproduksi film ini. Akan tetapi, buat pecinta Nora Fatehi, ini adalah kabar baik. Kehadirannya cukup mengesankan. Sedangkan Sonakshi Sinha, harus cukup bersabar kembali untuk meraih kesuksesan setelah Lootera. Tapi saya suka Sona saat dia menyanyikan lagu penggugah semangat patriotisme itu. Lipsync nya pas.

Bhuj: The Pride of India jelas tidak ingin menjadi film gagal. Akan tetapi usahanya gagal total untuk menjadi hiburan nasional India yang beroktan tinggi, memicu adrenalin, bahkan gagal sebagai sebuah hiburan yang klise dan stereotip. 

Bhuj: The Pride of India tayang di jaringan Disney+ Hotstar mulai tanggal 13 Agustus 2021.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url