5 Tradisi Aneh Janda Di India Menjadi Cikal Bakal Lahirnya Hari Janda International Setiap Tanggal 23 Juni

FilmIndia.my.id --Hari Janda Intenasional diperingati setiap tanggal 23 Juni. Peringatan ini sudah diramaikan di dunia sejak 2011 dengan tujuan utamanya adalah untuk menarik perhatian suara para janda, menyoroti masalah yang dihadapi para janda, dan menggalang dukungan untuk mereka. 

Hari Janda Internasional adalah hari aksi yang diakui Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk mengatasi kemiskinan dan ketidakadilan yang dihadapi oleh jutaan janda dan tanggungan mereka di banyak negara," terang laporan laman Times Now News, Rabu (23/6/2021) 

Sejarah Hari Janda International

Hari Janda Internasional didirikan oleh The Loomba Foundation untuk meningkatkan kesadaran tentang masalah janda. Tanggal 23 Juni dipilih karena pada hari itu di tahun 1954, Shrimati Pushpa Wati Loomba, ibu dari Raj Loomba, menjadi janda. 


Rajinder Paul Loomba menjadi terkenal karena penggalangan dana dan kampanyenya mengenai masalah janda di negara berkembang. khususnya di India. Ibunya, Shrimati Pushpa Wati Loomba, menjanda pada usia 37 tahun, dan Raj Loomba mengalami langsung diskriminasi sosial dan ekonomi yang dihadapi para janda di negara itu. Dalam kenanangan atas ibunya, Loomba mendirikan yayasan The Loomba Foundation, yang bekerja untuk meningkatkan kesadaran akan masalah janda dan menggalang dana untuk mendidik anak-anak janda miskin di India. Yayasan ini juga memberdayakan janda di negara-negara berkembang lainnya di Asia Selatan hingga ke Afrika. Misi utamanya adalah untuk penentuan hari khusus bagi para janda dan mengajak masyarakat dunia agar memiliki kesadaran dan kepedulian terhadap para janda. Hari Janda Internasional yang berlangsung setiap tahun pada tanggal 23 Juni, peringatan hari menjanda bagi ibunya. 

Hari Janda Internasional pertama kali dirayakan pada tahun 2005 oleh Raj Loomba bersama Cherie Blair, ketua yayasan tersebut. Setelah kampanye berkelanjutan dan tanpa henti, akhirnya pada tanggal 21 Desember 2010 Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa secara resmi mengakui dengan suara bulat, tanggal 23 Juni ditetapkan sebagai Hari Janda Internasional. Pertama kali diperingati pada tanggal 23 Juni 2011.

5 TRADISI ANEH PARA JANDA DI INDIA

Seperti dijelaskan di atas, Raj Loomba mengalami langsung perlakukan diskriminasi sosial dan ekonomi yang dialami oleh ibunya setelah menjadi janda di India. Seperti yang kita ketahui dari film-film India, India dikenal sebagai negara yang memiliki tradisi dan ritual adat yang aneh, bahkan berbahaya bagi warganya. Salah satunya adalah tradisi yang harus dilakukan para janda di India. 

Setelah para istri berduka cita usai ditinggal sang suami, mereka wajib mengikuti sejumlah tradisi janda yang tergolong diskriminatif, juga berbahaya. Perilaku terhadap janda telah menimbulkan pro dan kontra di masyarakat. Pada masa kolonial, salah satu peraturan yang dibuat oleh Gubernur Jenderal Lord William Bentinck, pada 1829 terkait keberadaan janda yaitu melarang ritual Sati/Sutee bagi para janda. 

Ritual sati yang dalam bahasa Sansekerta disebut Sutee, adalah tradisi kuno dalam masyarakat Hindu, di mana seorang janda yang ditinggal mati suaminya akan membakar diri bersama suaminya yang sedang dikremasi di atas bara api. Meski aturan Gubernur Lord William Bentrinck itu ditetapkan, namun tetap saja banyak masyarakat yang melanggar. Yang memilih patuh pun tidak berdampak banyak. Hidup para janda itu kian penuh nestapa.

Dikutip dari Kumparan.com, berikut beberapa ritual aneh --sekaligus menyedihkan yang harus dilakukan oleh para janda di India.

1. JANDA HARUS BERPAKAIAN PUTIH SEUMUR HIDUP

Sejatinya menjadi janda di India adalah hal yang lumayan berat, karena masyarakat sosial akan menganggap itu kurang baik. Salah satunya yang harus dihadapi para janda di India adalah mengenakan pakaian atau sari putih seumur hidupnya. Pakaian putih di India adalah lambang berkabung, sebagai tanda duka cita bagi suami mereka yang mendahuluinya. Para janda ini tak boleh memakai perhiasan atau aksesoris lain, karena hal itu berhubungan dengan simbol pernikahan. Bisa dibilang kalau para janda ini harus membuang segala hal yang berhubungan dengan pernikahan dan kehidupan sebagai seorang istri. 

Beberapa orang Hindu paling konservatif di India percaya bahwa seorang wanita yang suaminya telah meninggal, tidak lagi hidup (dianggap mati) karena dia gagal mempertahankan jiwanya. Untuk melambangkan status sosialnya sebagai janda, para perempuan yang ditinggal mendiang suaminya harus mengenakan pakaian atau sari putih seumur hidupnya.

Namun, sayangnya adanya simbol pakaian putih itu kadang juga jadi sebuah diskriminasi, lantaran banyak orang atau pedagang yang enggan berinteraksi dengan mereka.

2. MENGASINGKAN DIRI ATAU PERGI MENINGGALKAN RUMAH

Satu hal yang sering dialami oleh para janda di India ini adalah meninggalkan kediamannya. Menurut tradisi Hindu, seorang janda tidak boleh menikah lagi. Dia harus berdiam diri di rumah, melepas perhiasannya, dan memakai pakaian dengan warna putih (berkabung). 

Menurut masyarakat India, janda menjadi sumber rasa malu bagi keluarganya, kehilangan hak untuk berpartisipasi dalam kehidupan beragama, dan terisolasi secara sosial. Karena strata sosial ini, banyak janda diusir atau melarikan diri dari rumah mertua mereka -tempat mereka biasanya tinggal- dan pergi ke kota-kota besar, di mana mereka bisa menghilangkan jejak. Beberapa lagi pergi ke kota suci Hindu di Varanasi, sementara yang lain berjalan ke Vrindavan (semacam asrama/pondok para janda), di mana Dewa Krishna, dewa Hindu yang disembah oleh banyak janda, menghabiskan masa kecilnya. Di sanalah mereka akan menghabiskan masa-masa tuanya dengan para janda yang lain.

3. MEMOTONG RAMBUNG

Dalam budaya India, seorang wanita yang menyandang status janda dipaksa meninggalkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pernikahan, seperti sindoor, mangalsutra dan dalam kasus ekstrem bahkan perhiasan. Selain aksesoris, mereka juga harus mencukur mahkota dalam tubuhnya, yaitu rambut. Bagi para janda di India, hal ini rupanya rambut bisa jadi malapetaka. Oleh sebab itu, masyarakat di Jalan Vrindavan ini berisi para janda yang berambut pendek atau bondol. Rambut yang sudah dicukur itu sebagai penanda atau pembeda antara perempuan yang sudah janda dengan yang masih menikah.


4. DILARANG MENGIKUTI RITUAL ADAT/AGAMA

Karena dianggap memiliki status sosial yang berada di bawah, banyak ritual keagamaan yang tidak boleh diikuti para janda. Bahkan, mereka juga dilarang untuk datang ke acara pernikahan. Hal ini dilakukan untuk menolak kesialan yang mungkin bisa datang pada calon mempelai. Selain itu, di banyak desa di pedalaman India, seorang janda masih diwajibkan untuk mengikuti beberapa pantangan. Tak hanya itu, mereka juga dilarang untuk datang ke acara pernikahan. Alasannya karena untuk menolak kesialan yang mungkin bisa datang pada calon mempelai.

5. MEMBAKAR DIRI BERSAMA RITUAL KREMASI SUAMI

Bagi penduduk India, janji sehidup semati dalam pernikahan memang tak boleh dianggap remeh. Saking sakralnya, para janda di India akan melakukan tradisi membakar diri yang dikenal sebagai Sati (Suttee). Dalam tradisi Sati, ketika sang suami meninggal dunia, istri juga akan menghilangkan nyawanya. Salah satu caranya adalah dengan membakar diri. 

Sati berasal dari bahasa Sansakerta, yakni Sutee. Dilansir Encyclopedia Britannica, Sati berarti wanita yang baik atau istri yang suci. Dalam praktiknya, Sati biasanya dilakukan segera setelah sang suami meninggal dunia. Menurut Culture Trip, berdasarkan kepercayaan Hindu kuno, Sati melambangkan penutupan pernikahan. 

Sati dilakukan secara sukarela, tanpa paksaan. Murni karena sang istri ingin menjadi pasangan yang berbakti dan mengikuti suami ke alam baka. Namun, seiring waktu, tradisi ini menjadi sesuatu yang 'dipaksakan'. Secara tradisional, sosok janda di India tidak memiliki peran dan dianggap sebagai beban. Kabarnya, apabila janda tersebut ditinggal mati suaminya dan tak memiliki anak, ia akan 'ditekan' oleh masyarakat untuk melakukan tradisi Sati. 

Selain itu, kesulitan menjalani hidup sebagai seorang janda juga menjadi alasan terbesar praktik Sati berkembang. 

Sati berbeda dengan Jauhar. Meskipun sama-sama ritual membakar diri yang dilakukan oleh wanita, Jauhar dilakukan demi alasan politis, yaitu tidak mau diperbudak oleh bangsa yang telah mengalahkan kerajaannya.  Tentang Jauhar, telah diulas di dalam artikel "Bunuh Diri Massal Itu Disebut Jauhar"

PENUTUP

Namun jangan khawatir, di kota hal ini jarang sekali dipraktikkan. Terutama di upacara Holi di mana semua kasta dan status berbaur menjadi satu, para janda ini juga banyak yang datang. Meskipun nasib para janda ini penuh dengan nestapa, tapi keadaan di sana sejatinya makin progresif. Pemerintah mulai melirik mereka memberikan bantuan secara tetap. Pun demikian dengan lingkungannya, meskipun jauh dari keluarga namun komunitas janda saling tolong-menolong satu sama lainnya.Atas dasar penderitaan yang dijalani ibunya itulah, Rajinder Paul Loomba berninisiatif untuk mencari dukungan dunia melalui peringatan Hari Janda Internasional, agar masyarakat dunia lebih perduli terhadap kehidupan para janda setelah ditinggal mati oleh suaminya. 

Ingat, ya. Janda yang dimaksud adalah janda yang ditinggal mati suaminya. Buka janda yang kawin-cerai akibat masalah keluarga, atau gangguan pihak ketiga.

Sumber artikel dan gambar : Kumparan dan Oretzz



Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url