Review Film: Sufiyum Sujatayum (2020) -Malayalam

Saking indahnya suara lantunan Adzan dari Sufi, membuat seorang gadis cantik di desa itu tertarik untuk melihat secara langsung, siapa pelantun adzan itu. Sujata, gadis bisu yang pandai menari dari keluarga Hindu yang mendengar suara adzan itu,  merasakan getaran hebat di dalam dadanya. Bahkan dia mengekpresikan lantunan adzan itu dengan sebuah tarian yang indah.

Di rilis pada tanggal 3 Juli 2020 di jaringan digital, film Sufiyum Sujatayum adalah film Malayalam pertama yang dirilis secara digital, diperankan oleh Dev Mohan dan Aditi Rao Hydari. Bercerita tentang gadis bisu dari umat Hindu yang jatuh cinta kepada Sufi dari umat Islam. Seperti halnya kisah roman umumnya, plot Sufiyum Sujatayum terasa klise dan basi.

Kisah cinta yang sangat sederhana, dan mungkin klise. Tetapi sangat indah! Bagian terbaik dari film ini adalah lagu-lagu yang penuh emosi dan menyentuh sisi relung hati yang paling dalam. Sungguh menyenangkan bisa menikmati sinematografi yang memukau dan musik yang luar biasa. Aditi tampil memukau tanpa dialog. Dia berakting hanya dengannya mata!

Plot

Seseorang yang mengaku bernama Sufi, tiba saat tengah malam di Masjid Jin, sebuah masjid di pinggiran desa.  Dari wajahnya, tampaknya dia sudah berusaha keras untuk tiba ditempat itu. Menjelang waktu subuh, atas seizin penjaga masjid, Sufi itu mengumandankan Adzan subuh yang begitu merdu. Saking merdunya, jemaah sholat subuh yang biasanya sepi, langsung memenuhi panggilan Adzan itu. Tentu saja sang Imam Masjid Jin itu senang, dan langsung mendirikan sholat jamaah.

Namun saat sujud di rakaat pertama, pemuda Sufi itu tak bangkit lagi. Dia meninggalkan semua jemaah sholat subuh itu untuk benar-benar menghadap sang Ilahi. Sungguh sebuah kematian yang sangat indah. Melalui sebuah kilas balik saat akan menguburkan jenasah Sufi itu, penonton diajak menelusuri kisah pemuda yang meninggal itu.

9 tahun yang lalu, Sufi tinggal di desa itu untuk berguru kepada seorang ulama. Selain belajar tentang agama, keseharian Sufi adalah mengajar mengaji untuk anak-anak di sekitar desa itu. Ketika tiba waktu sholat, Sufi mengumandangkan suara Adzan yang sangat indah.

Saking indahnya suara lantunan Adzan dari Sufi, membuat seorang gadis cantik di desa itu tertarik untuk melihat secara langsung siapa pelantun adzan itu. Dialah Sujata, gadis bisu yang pandai menari dari keluarga Hindu. Setiap kali Sujata mendengar suara adzan itu, Sujata merasakan getaran yang hebat di dalam hatinya. Bahkan dia mengekpresikan adzan itu dengan sebuah tarian yang indah.

Bagaimana kisah cinta Sufi dan Sujata selanjutnya? Sebaiknya anda tonton sendiri. Durasinya hanya 2 jam 2 menit.

Review

Seperti yang telah disampaikan di atas, bagian terbaik dari film Sufiyum Sujatayum ini adalah lagu-lagu religi, tarian, sinematografi, dan tentu saja akting pelakon utamanya. Penonton muslim, tentu akan dengan sangat mudah menikmati lagu-lagu religi yang dibuat oleh M. Jayachandran yang mengalun lembut selama hampir 80% durasinya. Lagu-lagu itu menjadi satu kesatuan dengan gambar yang disajikan. Entah sebagai latar belakang adegan, ataupun untuk memberikan rasa yang lebih mendalam terhadap karakter-karakternya yang sedang berlakon.

Acungan jempol tentu saja layak diberikan kepada Aditi Rao Hydari. Tanpa satupun dialog yang dia keluarkan, namun dia bisa menyampaikan emosinya kepada penonton. Gerakan tubuh Aditi, ekpresi wajah, terutama gerak matanya yang berputar lincah itu akan selalu dikenang penonton. Mata itu mampu mengekpresikan emosi yang dirasakan Sujata.

Dev Mohan sebagai Sufi juga mampu membuat penonton bersimpatik. Lantunan suara adzan itu bisa membuat penonton percaya bahwa itu suara dari Dev Mohan. Tatapan mata dan senyumnya yang manis itu bisa dipastikan akan membuat penonton cewek sukses jatuh cinta.

Jayasurya berperan sebagai suami Sujata, antagonis yang sukses bikin deg-degan. Selain Aditi Rao Hydari, saya sendiri tidak tahu dan kenal dengan wajah-wajah pemainnya.

Gambar-gambar yang ditangkap oleh Anu Moothedath adalah keunggulan lain dari Sufiyum Sujatayum. Pemandangan alam pedesaan di pelosok India itu terlihat sangat indah. Permainan kamera zoom in-out sangat efektif menambah sisi keindahan gambar. Tak hanya indah, gambar yang disajikan pun mampu bercerita banyak tanpa harus berdialog. Bahkan gerakan sholat pun bisa terlihat sangat indah di film ini.

Naranipuzha Shanavas bertindak sebagai penulis cerita, skenario, dan juga sutradara. Tak pernah ada film lain dari sutradara ini yang telah saya tonton.

Sisi buruk dari film ini adalah gaya berceritanya. Banyak yang ingin disampaikan oleh Shanavas melalui Sufiyum Sujatayum, hingga dia lupa membuat kisah yang menghibur. Alur yang disajikannya terasa lambat, dengan iringan musiknya yang akan membuat penonton tertidur. Bahkan saya menontonnya secara bertahap. Tahap pertama, saya sukses tertidur di menit ke 30. Tahap selanjutnya, saya tidur duluan untuk menyiapkan stamina dan mental yang cukup agar tak tertidur selama menonton sisa durasinya.

Dan benar saja, ketika mental dan stamina saya cukup, saya bisa menikmati sisi keindahan film ini. Bahkan di beberapa adegan, saya dibuat senyam-senyum sendiri, dan juga ada beberapa adegan yang bikin saya was-was.

Dari film ini pun saya bisa tahu bagaimana kehidupan masyarakat di pedalaman India. Toleransi umat beragama yang hampir sama dengan kondisinya di negara kita. Bahkan dari film ini saya bisa tahu bagaimana cara mengubur jenazah orang islam disana. Tidak banyak berbeda.

Mengangkat tema agama seperti Sufiyum Sujatayum --meski disajikan dengan sangat indah-- akan sangat beresiko. Apalagi jika tidak dibarengi dengan kelapangan dada yang luas dan rasa toleransi yang tinggi. Di negaranya sendiri, film ini mendapatkan beberapa komentar negatif (SARA). 


Penutup

Terlepas dari isu agama yang ingin diangkat film ini, saya sarankan untuk pecinta film Masala agar tidak menontonnya. Sufiyum Sujatayum sangat tidak cocok bagi penikmat hiburan. Alur dan gaya penceritaannya lambat dan akan terasa membosankan. Ditambah lagu-lagu yang mungkin tidak akan terdengar menarik.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url