Review: JALEBI (2018), Napak Tilas Kisah Cinta Dengan Realita

"People like to belive in a fairytale", demikian sebuah kalimat yang sejatinya mewakili keseluruhan isi film dari sutradara debutan, Pushpdeep Bhardwaj yang mengulirkan sebuah romantika manis seperti jalebi (makanan khas India-dari tepung yang dilumuri gula) yang hanya sesaat. Jalebi menuturkan sebuah romantika yang menyimpan setumpuk relevansi dengan dunia nyata, bahwa kita pernah jatuh cinta dengan sosok orang tercinta, dan terpuruk sejadi-jadinya kala semuanya tak berpihak kepada kita, demikianlah realita.

Aisha Pradhan (Rhea Chakraborty), seorang penulis yang dilanda depresi pasca diingkari sebuah janji-memutuskan untuk pergi mengunjungi Delhi guna menghadiri sebuah sesi baca buku miliknya. Menggunakan jasa kereta, Aisha bertemu dengan seorang wanita bernama Anu (Digangana Suryavanshi) bersama sang puteri, Pulti (Aanya Dureja) yang tengah sibuk memberi kabar terhadap sang suami. Rasa kaget pula sakit yang tak tertahan menyambangi hati Aisha setelah mengetahui bahwa sosok suami dari Anu adalah Dev (Varun Mitra), sosok yang memberikan janji untuk bertemu kepadanya.

Jalebi menuturkan kisahnya secara maju-mundur, poinnya sendiri terdapat dalam sebuah kabin kereta-yang secara tak langsung membuka kembali lembaran lama, sebuah romantika antara Aisha-yang kala itu menjadi salah satu peserta yang mengikuti sebuah kelas sejarah dengan Dev-yang seorang pemandu wisata rumah bersejarah miliknya. Perbedaan mencolok sangat kontras dimiliki keduanya. Namun, bukanlah sebuah masalah bagi mereka yang sedang dimabuk asmara.

Ayesha yang berjiwa bebas melamar Dev. Tak butuh waktu lama untuk mengadakan upacara pernikahan. Jurangkultural yang berbeda membuat ibu Dev (Pravina Deshpande) sedikit kurang menerima-yang mana gagal disajikan sebuah distraksi tersendiri bagi film ini. Konfliknya sendiri memuncak kala Aisha yang masih berusia 21 tahun mengandung anak Dev-yang kemudian kandungannya mengalami keguguran. Dari sini, biduk rumah tangga yang mereka bangun pecah begitu saja, menimbulkan sebuah pertanyaan terkait melanjutkan atau mengakhiri-yang membawa sebuah titik temu bagi filmnya dalam menuturkan sebuah sudut pandang tokoh utama.

Jalebi adalah sebuah napak tilas kehidupan dengan perasaan yang masih belum siap menerima realita. Dalam tuturannya, sang sutradara yang turut menulis naskahnya bersama Kausar Munir (Begum Jaan, Bajrangi Bhaijaan) memberatkan pada sebuah pembicaraan tak langsung dari kabin antara Anu dan Aisha dalam memberikan sebuah penjelasan yang menggiring pada sebuah adegan flashback-yang memberikan sedikit demi sedikit pencerahan bagi penontonnya. Ini tersaji cukup rapi meski sesekali terasa kasar.

Untungnya, narasi non-linier ini terasa padat berkat penempatan pace yang tepat (durasinya sendiri berlangsung selama 112 menit). Sembari di temani lantunan melodi dari suara Arijit Singh lewat lagu bertajuk Pal hingga Mera Pyaar Tera Pyaar yang seolah memberikan sebuah gambaran rasa dari tokohnya, Jalebi sejatinya begitu manis dalam ingatan di tengah kenyataan pahit yang tengah menggelayuti tokohnya.

Konklusinya sendiri mengalami kendala berupa penjelasan singkat demi melunasi setumpuk permasalahan. Memang sebuah penggampangan yang tak seharusnya terjadi, namun saya bisa memafhumi hal tersebut berkat keputusan pula penerimaan yang dewasa. Semua masalah memang bisa diselesaikan secara baik-baik, itu pun yang dipilih sang sutradara dalam menjawabnya.

Jalebi memberikan sebuah pencerahan terkait perasaan. Bagi mereka yang pernah mencinta dan dicinta, yang pernah memiliki dan dimiliki, dan kini semuanya tak berjalan kembali. Tentu dalam kenyataannya, hal demikian sangatlah sakit. Pertemuan harus diakhiri dengan perpisahan. Dari sini kita belajar bahwa mengikhlaskan dan menerima adalah suatu jalan menuju kebahagiaan.


------

Review oleh : Kie Haeri
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url