Review Film Padmaavat (2018)



Jika kita dihadapkan pada pilihan menyerah kalah atau bertarung hingga tetes darah penghabisan, maka secara normatif semua orang akan memilih berjuang meski nyawa sebagai taruhannya. Tak ada kata menyerah untuk sebuah perjuangan.


Terlepas dari apapun yang diperjuangkan, entah benar ataupun salah, perjuangan selalu menjadi pilihan untuk membuktikan bahwa seseorang telah berusaha sekuat tenaga, dan ini diyakini lebih terhormat dibandingkan dengan menyerah dan mengaku kalah.

Padmaavati yang baru rilis tanggal 25 Januari 2018 kemarin adalah sebuah film yang ingin bercerita tentang sisi lain dari sebuah perjuangan mempertahankan kehormatan yang dilakukan oleh seorang wanita, Padmaavati. Sejarah mencatatkan bahwa Ratu Padmaavati pada tahun 1304 M melakukan aksi bunuh diri massal bersama seluruh wanita (dan anak-anak) di negerinya, kerajaan Chittor.  Aksi bunuh diri massal ini dikenal dengan nama Jauhar.



Review

Sejak awal, saya sendiri tidak terlalu punya ekspektasi yang tinggi terhadap film ini. Hasrat yang menggebu ketika jadwal rilis pertama kali diumumkan, saya sudah antusias banget. Namun, berbagai kendala dan kecaman terhadap Padmavati hingga tertunda rilisnya (bahkan hingga beberapa kali) menyebabkan saya antiklimaks, hilang antusias. Perlu dooping untuk mengembalikan minat saya menonton film ini. Jika saja bukan Sanjay Leela Bhansali, pasti saya akan menunggu dengan sabar versi downloadannya (Upsh, ketahuan suka download).


Setelah penantian yang menjengkelkan, akhirnya film ini rilis juga. Dan kebetulan di kota tempat saya mengembara, film ini pun ditayangkan. Di hari pertama jam terakhir, saya menyempatkan diri untuk menyaksikan kemegahan Padmaavat(i).

Seperti biasanya, SLB selalu menyajikan kemewahan dan kemegahan dalam sebuah sinema tanpa harus terkesan lebay. Dan tentu saja dengan sentuhan seni yang begitu detil, meski beberapa visual effek masih terlihat tidak real, namun kekuatan akting para pemainnya sanggup menutupi kekurangan dari sisi visual ini.


Sanjay Leela Bhansali memilih cara aman untuk tidak mengklaim bahwa film garapannya ini adalah berdasarkan sejarah. Dia hanya menegaskan bahwa cerita yang diangkatnya adalah fiksi berdasarkan puisi epik berjudul "Padmaavat" karya Malik Muhammad Jayasi pada tahun 1540. Puisi ini bercerita tentang ratu Rajput, Padmavati dan ambisi seorang penguasa muslim.
 


Dengan konsep penceritaan ala dongeng, seorang narator memulai kisah Padmaavati. Konsep ini untuk menegaskan bahwa film ini fiksi, bukan biografi, alih-alih pembenaran sejarah. Pada jaman dahulu kala, ketika Delhi dikuasai dinasti Mughal, kala itu dipimpin oleh Jalaluddin Khilji yang memiliki keponakan sekaligus menantunya bernama Allaudin Khilji. Dari sini penonton dibawa untuk mengenali tokoh utama dalam kisah Padmaavat ini.

Babak pengenalan tokoh ini penting untuk terus mengikat penonton agar betah hingga pertunjukan berakhir. Penonton mulai mengenal dan merasa terikat pada sosok Allaudin Khilji dengan ambisinya, Raja Ratan Singh dengan prinsipnya, dan tentu saja Padmavati dengan wajah cantik dan kecerdasannya.

Di bagian ini, justru Khilji yang berhasil memikat penonton untuk terus menanti adegan-adegan selanjutnya. Khilji digambarkan buas, haus kekuasaan, dan juga gila pada perempuan, akan melakukan apa saja untuk memenuhi ambisinya. Bahkan ia tega membunuh paman yang juga mertuanya untuk menguasai tahta. Baginya, hidup adalah perang dan hanya satu aturan dalam perang, yaitu menang. Segala cara akan dilakukannya untuk meraih kemenangan.

Ketika konflik mulai digulirkan, kabar tentang kecantikan Padmavati terdengar hingga ke Delhi. Alaudin tertarik dan ingin merebut Padmavati. Tentu ambisinya ini tidak akan mudah, karena Padmavaati adalah seorang istri dari Raja Chittor Rana Ratan Singh. Untuk memilikinya, Alaudin harus menaklukkan kerajaan Chittor.

Adu strategi perang, kecerdikan, (dan kelicikan tentu saja) dari kedua belah pihak mewarnai sisa durasi selanjutnya hingga 164 menit. Dan puncaknya adalah pertempuran antara Ratan Singh melawan Alaudin Khilji yang memicu aksi Jauhar yang dipimpin oleh Padmavati.


Semua pujian dialamatkan kepada para pemeran film Padmaavat, khususnya Ranveer Singh. Para kritikus sepakat, pelakonnya bermain bagus, pun demikian yang saya saksikan. Saya suka akting Ranveer Singh sebagai Allaudin Khilji, total banget (dan menyebalkan). Kebuasannya luar biasa buas. Kelicikannya luar biasa licik. Tatapan matanya mengancam, semua yang melihatnya pasti bergidik. Ranveer mampu mempresentasikan seorang penguasa (yang muslim) ambisius dan bisa melakukan apa saja demi mencapai tujuannya. 
 
Deepika Padukone saya lihat masih seperti Mastani dalam Bajirao Mastani. Melihat Padmavati sama seperti ketika saya menonton Mastani. 11-12, tak banyak beda. Bagus, sih.. tapi sekali lagi tak ada bedanya dengan Mastani. Cantik? Iya, seperti biasanya. Namun kecantikannya (dan kecerdasannya) tak cukup tersaji dengan baik sebagai alasan utama Khilji menginvasi Chittor. Bahwa Ratu Padmavaati cantik, hanya diketahui keluarga kerajaan dan pendeta guru.


Shahid Kapoor juga tak kalah bagusnya berperan sebagai Ratan Singh, Raja Chittor yang merupakan suami Padmaavati. Dia mampu mengimbangi lawan mainnya dengan baik. Hanya saja sangat disayangkan, kurang pas dipasangkan Deepika Padukone. Entah mengapa saya merasa gak serasi jika dia lagi satu frame bersama DP.

Jim Sarbh yang sebelumnya sukses sebagai villain di film Neerja, kali ini dia juga sukses sebagai Malik Kafur, tangan kanan Khilji. Tatapan matanya benar-benar menyiratkan kecintaannya pada Alaudin.  Dalam lagu Binte Dil, ekpresinya benar-benar menjiwai. Sama seperti bang Mahfud, saya baru tahu jika PBS nya Arijith Singh.

Aditi Rao Hidari juga tampil bagus. Tak banyak scene yang mengeksplore kepiawaiannya berakting, namun mampu memikat penonton untuk bersimpati pada sosok Mehrunnisa, istri Alaudin Khilji. Secara keseluruhan, semua pemainnya bermain bagus dan alami.

Terlepas dari seluruh kontroversi yang ada, sekali lagi Padmaavat(i) ini adalah fiksi. Banyak bantahan dari pakar sejarah tentang tokoh-tokoh yang digambarkan dalam film ini. Meski ini adalah fiksi, tetap saja banyak plot hole yang tak logis. Meski alasan invasi ke Chittor adalah untuk merebut Padmaavati, masak iya sampai segitunya? Bertemu saja tidak pernah, hanya berdasarkan kabar dari seorang pendeta yang tak dikenal hingga mengerahkan ribuan pasukan, demi apa coba? Mungkinkah ini bagian yang disensor? Entahlah. Masih banyak plot hole lainnya yang tak akan saya ungkap disini.

Lagu-lagu yang disajikan dalam Padmaavati semuanya bagus. Ghoomar cukup membuat saya merinding.  Gerakan tariannya pelan di awal, namun menghentak di penghujung lagu. Binte Dil bikin saya geli. Sementara Khalibali kembali membuat mata saya melek melihat kegilaan Ranveer Singh. Sayangnya Nainowale Ne tak ada selama durasi film berlangsung.



Adegan epic yang saya tunggu-tunggu tentu saja adegan klimaks, saat Padmaavati memimpin seluruh rakyatnya untuk melakukan Jauhar. Merinding...

Dan seperti biasa, saya tidak memberikan rating pada review yang saya tulis. Jadi, yang belum nonton lekasi saja menontonnya di bioskop. Karena jika kalian menonton di layar kaca, pasti kemegahan film ini akan terasa hambar. (uziek)


PADMAAVAT (2018)
Directed by
Produced by
Written by
  • Sanjay Leela Bhansali
  • Prakash Kapadia
Based on
Starring
Music by
Sanjay Leela Bhansali
Sanchit Balhara
(score)
Cinematography
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url