Review Film: One - Malayalam (2021) Tayang Di Netflix

Menonton film India bertemakan politik selalu menjadi sesuatu yang menyenangkan bagi saya. Ada gambaran carut-marut dunia politik, dan tentu saja ada 'sesuatu' yang ideal dan harusnya terjadi di dunia nyata. Setidaknya kita sebagai penonton memiliki gambaran sosok politikus ideal yang seharusnya memimpin negara ini.

Seperti film 'One' yang tayang di Netflix  pada akhir April 2021 ini, typikal filmnya hampir serupa dengan 'Bharat Ane Nenu' film India berbahasa Telugu yang sukses besar di India. Penyajian ceritanya selalu berhasil membuat para penontonnya terbuai. Ide-ide cerita film ini didominasi oleh isu-isu yang sangat dekat dengan masyarakat dan para penonton, termasuk di Indonesia. 

Film yang disutradarai oleh Santhosh Viswanath ini mengisahkan tentang perebutan kekuasaan di dalam pemerintahan Kerala. Seorang Ketua Menteri --setara Gubernur di Indonesia, yang ideal, yaitu Kadakkal Chandran (Mammootty) harus berjuang melawan lingkungannya yang korup. Idealisme dan kejujurannya ini ingin membawa kembali “Right to Recall”, yaitu hak warga negara untuk mencabut dukungannya terhadap wakil rakyat (DPR) ataupun presiden, dalam konteks ONE adalah CM/Chief Minister atau Kepala Menteri. 

Right To Recall diyakini tokoh utama dapat mengurangi korupsi. Jika warga negara memiliki hak untuk mendukung dan memilih calon wakilnya di pemerintahan, maka rakyat juga memiliki hak untuk mencabut dukungannya itu. Dengan adanya hak 'Right To Recall', maka wakil rakyat akan berhati-hati dalam menjalankan tugasnya karena jika rakyat berkehendak, jabatan itu bisa dicabut.

Bagaimana langkah-langkah Chandran dalam menghadapi persoalan itu? Inilah film ONE yang diarahkan oleh duo penulis, Bobby dan Sanjay, dalam durasi 2 jam 32 menit ini?

Sinopsis Film ONE - Malayalam (20121)

Sosok Kadakkal Chandran digambarkan sebagai Ketua Menteri yang sangat amanah dalam mengemban suara rakyat dan menjaga kesucian demokrasi. Kehadirannya di awal cerita bermuara dari kesalahpahaman Sanal (Mathew Thomas) yang menyudutkan Chandran dalam sebuah unggahan  yang ditulis di media sosial dan menjadi viral. Pria muda itu merasa kecewa dan marah karena langkahnya untuk masuk menjenguk sang ayah dihalangi oleh polisi yang berjaga di depan pintu masuk rumah sakit saat Ketua Menteri berkunjung. 

Pertemuan Sanal dengan Chandran
Unggahan tertulis, yang dia bagikan secara anonim di Facebook, menggambarkan Kadakkal Chandran sebagai orang yang sombong dan kasar. Kunjungannya itu membuat orang "biasa" dilarang masuk rumah sakit. Postingan tersebut memicu banyak unjuk rasa yang digerakkan oleh partai oposisi. Namun, berkat kelihaian Chandran dalam berpolitik, justru postingan tersebut menjadi sebuah media untuk menaikkan pamornya sebagai CM yang baik, bersih, dan membela rakyat.

Ini hanya 30 menit awal untuk mengenalkan tokoh utama, sang Chief Minister Kadakkal Chandran. 

Selanjutnya, saksikan bagaimana sepak terjang CM Kadakkal Chandran dalam membela hak rakyat dan menghadapi musuh politiknya. Dan pada akhirnya, usulan tentang "Right To Recall" diajukan kepada parlemen oleh sang Ketua Menteri.

Tentu saja usulan Right To Recall tersebut memicu perdebatan dari dalam partainya sendiri. Bukan hanya itu, usulan itu menjadi angin segar bagi pihak oposisi untuk melengserkan Chandran dalam kurun waktu secepat-cepatnya. Apakah usulan Chandran akan berhasil?

Saksikan ONE dalam durasi 2 jam 30 menit yang mengasyikkan ini.

Review Film: ONE - Malayalam (2021)

Seperti yang saya singgung di awal tadi, film ini sejenis 'Bharat Ane Nenu' yang berbahasa Telugu itu. Selain isu tentang Right To Recall yang ingin diangkat, tak ada sesuatu yang baru dan bisa menjadi tambahan wacana bagi saya. Penokohan Chief Minister yang terlalu sempurna ini membuat 'ONE' terkesan fiktif. Atau jangan-jangan film ini adalah film kampanye terselubung?

Secara hiburan, film ini sanggup membuai penonton dan bermimpi memiliki sosok pemimpin seperti Chandran. Isu-isu yang diangkat cukup relevan dengan dunia nyata, akan tetapi penyelesaiannya terlalu mudah. Semuanya demi untuk memperlihatkan betapa sempurnanya si tokoh utama.

30 menit pertama adalah bagian terbaik dari film ini. Sanal beserta ayah dan kakak perempuannya, Matthew Thomas-Salim Kumar-Gayatri Arun, ketiganya berhasil saling menjalin hubungan kekeluargaan yang hangat dan mengharukan. Mereka menjadi representasi sebagian rakyat yang kerap disudutkan oleh ketidakadilan karena permainan kekuasaan. Kualitas dari para pemain menjadi pilar-pilar yang mengokohkan keberadaan film ini sebagai film yang berpotensi besar mengambil hati para penontonnya.

Begitu pula tim oposisi di bawah pimpinan Marampalli Jayanandhan yang diperankan oleh Murali Gopy. Sifat-sifat jahatnya dipresentasikan dengan baik. Lirikan mata, ekspresi wajah sinis, atau gerak tubuh lainnya yang mengancam itu cukup mudah dikenali penonton awam.

Sayangnya, konflik hitam-putih ini tak mampu diekskusi dengan baik. Bobby dan Sanjay sepertinya hanya fokus pada isu yang ingin diangkat, yaitu 'Right To Recall'. Mereka lupa untuk mengembangkan sisi cerita yang sebenarnya telah memiliki pondasi bagus untuk dikembangkan. Tapi terbuang sia-sia.

Bagian lain yang saya suka adalah backgroun musik. Setiap alunan nada yang diarahkan oleh Gopi Sundar mampu untuk memicu adrenalin penonton untuk ikut masuk ke dalam irama cerita. 

Penutup

Pada akhirnya, saya menyadari bahwa film 'One' ini hanyalah film hiburan. Bukan film dokumenter atau pun kampanye terselubung. 'One' ingin menyampaikan bahwa rakyat adalah nomor 'satu'. Kepentingan rakyat adalah hal yang paling utama, karena pejabat dipilih oleh rakyat, digaji dengan uang rakyat, maka rakyat pulalah yang berhak untuk menurunkannya melalui 'Right To Recall'.


Sutradara: Santhosh Viswanath
Pemeran: Mammootty, Murali Gopy, Joju George, Mathew Thomas, Salim Kumar, Gayatri Arun

Durasi: 152 menit

 

 

 

 

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url