MIDDLE CLASS MELODIES REVIEW FILM

Banyak orang yang pesimis terhadap film ini karena aktor pemainnya adalah Anand Deverakonda, adik dari Vijay Deverakonda. Isu nepotisme jagat sinema India yang menjadi alasan utama pesimisme itu. Tapi saya tidak khawatir tentang isu itu. Saya langsung tertarik hanya karena judulnya, Middle Class Melodies (MCM)irama kehidupan warga kelas menengah.

Plot


MCM menyoroti sebuah keluarga kecil di sebuah desa di India. Raghava , pemuda yang baru lulus kuliah, sibuk membantu ayahnya menjaga warung kecil di sebuah desa. Cita-citanya ingin membangun bisnis hotel di kota Guntur. ---FYI, Hotel yang dimaksud disini bukan penginapan, tetapi sebuah restoran atau warung makan. (ingat film Ustadz Hotel?)---. Tetapi ayah Raghava ingin anaknya bekerja di sebuah perusahaan. 


Konflik menjadi seru ketika penonton diperkenalkan dengan  Sandhya (Varsha Bollamma) pujaan hati Raghava. Sandhya adalah cinta pertama Raghava. Saat menyatakan cintanya kepada Sandhya di masa SMA, Raghava kepergok bapaknya Sandhya. Sejak itu bapak Sandhya tak menyukai Raghava. 


Tapi, bapak Sandhya ini cukup matre. Mendengar Raghava ingin membuka 'hotel', dia langsung menawarkan gudangnya yang terbengkalai di sebuah sudut kota kepada Raghava. Harganya pun tak murah. Sialnya, tawaran itu adalah tawaran termurah yang dimiliki Raghava.


Selanjutnya, Raghava harus berjuang mendapatkan uang sewa gudang itu. Dibujuknya ayah dan ibunya agar meminjami uang untuk modal. Tak mudah bagi Raghava untuk meminjam uang dari ayahnya. Apalagi uang itu adalah uang terakhir sisa pesangon ayahnya yang diinvestasikan pada kepala desa. Berkat bujukan ibunya, akhirnya sang ayah setuju juga.


Kesialan itu tak berakhir. Kepala desa yang dipercaya untuk mengelola uang tabungan warga, ternyata uang itu habis untuk melanjutkan proyek jalan desa yang ditinggalkan terbengkalai oleh kontraktor nakal. Satu-satunya yang tersisa hanyalah tanah warisan yang bisa dijual untuk modal usaha Raghava. 


Di sisi lain, ayahnya Sandhya mengincar tanah warisan milik ayah Raghava. Menurut rencana tata ruang kota, tanah itu akan dijadikan akses jalan tol. Demi mendapatkan keuntungan di masa depan, dimulailah rencana busuk ayah Sandhya untuk membeli tanah itu dengan harga murah.


Kisahnya terus mengalir dari satu kesulitan menuju kesulitan lainnya seperti tak ada habisnya. Sebagai masyarakat kelas menengah, masalah demi masalah itu harus dihadapi. Seringkali untuk mengatasi sebuah masalah harus membuat masalah yang lain.


Sukseskah? Saksikan guliran perjuangan masyarakat kelas menengah ini hingga membentuk sebuah simponi kehidupan yang indah, dramatis, dan seringkali lucu 😀😀😀.


Sedikit ulasan


Cerita seperti MCM ini sudah banyak disajikan sinema India. Tapi Vinod Anantoju (Sutradara) adalah seorang pendongeng yang baik. Meskipun film ini adalah garapan pertama kalinya, ia mampu membuat cerita klise ini menjadi sangat menarik, segar, dan kocak.


Kita akan menyaksikan bagaimana hubungan Raghava, ayah, dan emaknya terasa sangat dekat sekali dengan kehidupan kita. Tetangga, pengunjung warung, dan tokoh-tokoh lain yang menjadi sub-plot cerita adalah potret nyata keseharian kita. Sangat alami dan akrab dengan kehidupan sebagian besar penonton di negara-negara berkembang, termasuk di Indonesia. Itulah yang membuat film ini menarik.


Menonton MCM ini saya jadi teringat sinetron Bajaj Bajuri. Gaya bercerita dan komedinya mirip film itu. Kelucuan-kelucuan yang terjadi bukan karena para aktornya sengaja melawak, tetapi murni karena keadaan yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari penontonnya. Saya sangat menikmati komedinya seolah ikut hanyut menertawakan kesialan-kesialan di dalam kehidupan saya. Para pelakonnya tampak sangat natural, bukan sedang berakting. 


Film yang bagus menurut saya adalah film yang bisa memberikan kepuasan setelah menontonnya. Meski aktornya terkenal, sutradaranya top, teknologinya canggih, modalnya besar, tetapi jika tidak bisa memberikan kepuasan bagi penonton, maka itu bukanlah sebuah film yang bagus. Saya puas bisa tertawa ngakak selama menonton film ini. Saya puas bisa mendapatkan sesuatu yang bermakna setelah menonton film ini. Saya puas menyaksikan para tokohnya berlakon secara alami. Karenanya, film ini menurut saya bagus.


Ukuran puas ini relatif dan subjektif. Sangat tergantung genre film dan juga selera seseorang. Makanya saya tidak pernah percaya 100% dengan review film, bahkan dari orang ternama sekalipun. Bagi saya, itu hanya sebuah opini subjektif yang perlu saya buktikan dengan cara menontonnya secara langsung. Seperti ulasan saya terhadap film ini, dengan tegas saya katakan; Jangan pernah percaya bualan saya ini. Titik.


Ulasan saya yang lain tentang film Comedy Couple bisa dibaca di bmcijatim.


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url