REVIEW FILM INDIA: HALAL LOVE STORY (2020)

SINOPSIS FILM HALAL LOVE STORY (2020)

Bisa menonton film terbaru adalah sebuah kemewahan yang tak bisa dinikmati oleh setiap orang penyuka film. Saya bersyukur sekali bisa memiliki kemewahan ini dan dapat menyaksikan film berkualitas dari jagad sinema India yang berjudul Halal Love Story, tepat 10 jam setelah rilis di negaranya. Itu pun sudah lengkap dengan subtitle  Bahasa Indonesia. Dari judulnya saja film ini sudah bikin penasaran. Halal Love Story --Kisah Cinta (yang) Halal. 

Teman saya yang saya kasih tahu ada judul film seperti ini langsung bertanya "ini film tentang hijrah-hijrahan kah?" Dan saya yakin, dia pasti ngakak saat saya kutip pertanyaannya di tulisan ini.🤣🤣🤣

Ada lagi teman lainnya merespon dengan pertanyaan "apakah ini kisah cinta pemuda dengan 72 bidadarinya?".  Langsung saja saya semprot, "Woy.. ini bukan cerita cucu kakek Sugiono !!!"😠😠😠

Jangan pernah menghakimi buku hanya dengan melihat covernya, apalagi cuma membaca judulnya, begitu sih kata orang bijak. Kalo kata teman-teman saya, Pantang Nyinyir Sebelum Menonton!

Fyi, di India sendiri film ini mendapat tanggapan beragam. Dari kalangan muslim, tentu saja mendapat sambutan positif. Tetapi sebalik, bagi penonton non-muslim terasa sangat membosankan bahkan terkesan sebagai sebuah usaha doktrin bagi penonton. Saya sendiri memaklumi, seseorang akan menganggap 'bagus' sebuah karya (film) jika merasa terikat/relatable dengan satu atau beberapa unsur dalam karya tersebut. Itupun yang terjadi dengan saya. Sebagai muslim, sedikit banyak mengerti dan merasa terhubung dengan film ini.

~o0o~

UPAYA MEWUJUDKAN FILM HALAL DALAM HALAL LOVE STORY (2020)

Plot utama Halal Love Story adalah tentang sekelompok orang dari Yayasan Jamathul Ikhwan Al-Wathan yang ingin membuat film yang menghibur, tetapi juga harus sesuai dengan syariat agama. Ide pembuatan film ini lahir dari salah satu pengurusnya yang bernama Rahim Sahib dan Taufeeq. Mereka ingin membuat film islami yang bercerita tentang Ibu.  

Tidak mudah bagi keduanya untuk mewujudkan gagasan tersebut. Apalagi masyarakat di sekitarnya tidak ada yang kompeten untuk membuat film. Maka disewa-lah sutradara profesional bernama Siraj dari kalangan Non-muslim. Tentu saja pilihan ini mendapat tanggapan beragam dari anggota yayasan. Belum lagi masalah dana, aktor dan artis pendukungnya, atau juga penolakan-penolakan dari masyarakat sekitar. 

Banyaknya kendala tersebut mampu dihadapi oleh Rahim dan Taufeeq berkat kemampuannya berdiskusi dengan masyarakat. Niat ini sudah baik, dan akan dilakukan dengan cara yang sebaik-baiknya, begitulah prinsip Rahim dan Taufeeq. 

Meskipun butuh biaya, tetapi kedua inisiator ini juga teguh memegang prinsip. Saking teguhnya Rahim tidak mau menerima donasi yang bersumber dari bunga deposito donaturnya. "Bunga itu riba, bahkan kau sendiri tak mau memakan hasilnya, kenapa akan kau sedekahkan kepada kami?" 

Ada juga sebuah adegan yang membuat saya ngakak, yaitu saat Rahim ditawari minuman alkohol, dia menolak. Lalu kru film itu ganti menawari Coca-cola, tetap saja Rahim menolak. "Hai, coca-cola ini tak dilarang agamamu, kenapa kau menolaknya?" Tanya kru film itu.

"Hehehe, kalo yang ini bukan masalah agama, tapi masalah pandangan politik!" --Fyi, Rahim dan warga sekitarnya sedang berjuang menolak produk Amerika.

Karena film yang dibuat ini harus sesuai syariat agama, maka hero dan heroine nya harus pasangan suami-istri. Maka dipilihlah Sharif dan Suhra, pasangan suami-istri yang telah memiliki 2 anak. Sharif dan Suhra bukanlah artis, mereka berdua adalah warga kelas menengah dengan kehidupan yang biasa. Tiba-tiba dipercaya menjadi peran utama untuk sebuah film. Bahkan warga di sekitar mereka juga diberi porsi peran untuk film tersebut. 

Bayangkan saja, orang biasa yang tiba-tiba harus menjadi aktor di depan kamera. Kaku, dan juga lucu. Untuk membuat sebuah adegan saja, sutradara harus take gambar berkali-kali. Sementara kru soundman memiliki masalah yang tak kalah sulitnya. Tim audio harus memastikan rekaman audionya bersih dan alami sesuai tuntutan adegan. Pas asyik take gambar, ayam tetangga berkotek. Giliran ayamnya dibungkam, pemilik ayamnya datang dan mengira kru film itu maling ayam. 🤣🤣 🤣Banyak adegan kocak gara-gara proses shooting ini. 

Selain itu, pasangan suami-istri Sharif dan Suhra berusaha keras untuk berakting sesuai arahan sutradara. Dalam usahanya ini, terungkap sebuah rahasia yang terjadi diantara mereka berdua. Rahasia ini menjadikan proses shooting film terganggu.  

Selebihnya, saksikan sendiri dalam film Halal Love Story.  Kalo dilanjutin, jadi spoiler nantinya. Gak seru lagi, ya kan? Durasinya hanya 1 jam 55 menit. Tapi sangat bermakna dan menghibur. Cocok ditonton bersama seluruh keluarga.

~o0o~

Meski mengusung tema serius, film ini cukup menghibur berkat kepiawaian sang sutradara Zakaria Muhammad yang juga bertindak sebagai penulis cerita. Banyak adegan yang secara visual terlihat biasa saja, tetapi memiliki makna yang cukup mendalam setelah kita amati secara detil latar belakang gambar, suara, ataupun dialog para tokohnya. Tidak semuanya berjalan mulus. Ada beberapa adegan yang sebenarnya tidak perlu ada, akan tetapi masih bisa ditolerir.

Indrajith Sukumaran dan Grace Anthony sebagai pasangan Sharif dan Suhra berperan sangat bagus. Bagaimana mereka terlihat kaku di depan kamera, atau tatapan mesra mereka, sangat alami. 

Hanya karena kamu "layak", bukan berarti kamu selalu benar" kata Suhra pada Sharif.  

Sumpah dialog ini keren jika mengikuti adegannya. Dan masih banyak dialog-dialog keren lainnya yang akan membuat kita merenung dan memikirkannya.

Yang paling saya ingat peran Soubin Shahir sebagai kru film bagian sound recorder. Karena terbiasa dengan alat pendengaran yang sensitif, bicaranya keras seperti orang marah.Teriakannya itu  seringkali bikin kaget pemain dan kru film lainnya. Dan inilah yang membuat Halal Love Story menjadi lebih segar. 

Nonton film ini dengan subtitle bahasa Indonesia di Nitnutflix Pro


Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url