REVIEW FILM : SUI DHAAGA (2018)

"Saat kau sudah tua, perusahaan tempatmu bekerja akan mengusirmu secara halus. Dengan iming-iming piagam penghargaan dan sejumlah uang pesangon/pensiun, mereka akan mengadakan pesta perpisahan (pengusiran?) - di hari terakhirmu bekerja. Lihatlah setahun kemudian, maka beruntunglah kamu jika mereka masih mengingat namamu."


Salah satu dialog dalam film Sui Dhaaga ini membuat kita harus berpikir ulang terhadap arti loyalitas karyawan pada perusahaan. Atas nama produktivitas, perusahaan akan secara halus mengusir karyawannya yang telah menginjak usia lanjut untuk tidak lagi membebani perusahaan. Maka terciptalah skema pensiun.

Mereka (perusahaan) tak peduli sebesar apapun jasa sang karyawan kepada perusahaan. Ketika seorang karywan tak lagi berguna, ditendanglah dia. Persis seperti kita membuang permen karet yang tak lagi manis ke tong sampah.

Sui Dhaaga (Jarum dan Benang) berusaha mencuci otak penontonnya agar mau menjadi seorang wirausaha mandiri. Melalui tokoh suami istri, Mauji (Varun Dhawan) dan Mamta (Anushka Sharma), Sui Dhaaga menceritakan suka duka seorang kelas bawah yang berjuang  mati-matian mengubah status Kuadran E (Employe/Karyawan) menjadi Kuadran S (Self Employe/Wirausaha), hingga akhirnya bisa mencapai Kuadran B (Business-man/Pengusaha). - Teori ESBI Quadrant Robert T. Kiyosaki!

Plot

Mauji bekerja di sebuah toko mesin jahit. Seluruh keluarga Bos-nya memperlakukan Mauji dengan tidak pantas. Hingga puncaknya, Mauji dipermalukan di depan khalayak ramai ketika pesta pernikahan sang anak bos.

Tak terima diperlakukan demikian, Mamta menyarankan agar Mauji berhenti bekerja di toko itu. Namun, ide ini ditentang sang Ayah. Dia tidak mau melihat anaknya menjadi pengangguran.

Mengikuti saran istrinya, Mauji berhenti dari pekerjaannya. Berbekal mesin jahit pinjaman dari tetangganya, Mauji mulai membuka lapak sebagai seorang penjahit. Bakat alaminya sebagai penjahit turun temurun dari kakek dan ayahnya.

Keputusannya ini tentu saja membuat ayahnya marah. Ayah Mauji tidak mau anak keturunannya bekerja sebagai penjahit. Baginya, menjadi penjahit sama dengan pengangguran terselubung. Tidak akan sukses. Dan akhirnya, keputusan itu menyebabkan pertengkaran antara ayah vs anak. Cekcok ini menyebabkan sakit asma ibu Mauji kambuh, dan harus dirawat di Rumah Sakit. Tabungan pensiun ayah terkuras habis. Mauji sendiri tak memiliki apa-apa untuk memulai usaha sebagai penjahit.

Selanjutnya, saksikan lika-liku Mauji dalam merintis usahanya dengan berbagai permasalahan dan kendala yang menghadangnya.

Review

Film ini temanya sederhana, namun dikemas secara bagus. Akibatnya, film bisa menghasilkan sebuah tontonan yang menarik sekaligus menghibur. Sui Dhaaga  adalah paket komplit sebuah tontonan yang menghibur sekaligus bisa dijadikan sebagai tuntunan. Tanpa harus terkesan menggurui, kisah Mauji dan istrinya ini mengalir perlahan namun pasti. Penonton langsung bisa terikat dengan tokoh-tokoh yang ada dalam Sui Dhaaga sejak menit-menit awal.

Proses pengenalan karakter ini penting bagi sebuah film, agar penonton tetap bertahan hingga durasinya berakhir. Mauji, Mamta, Ayah, Ibu, Kakak Sulung dan keluarganya, serta tetangga dan lingkungan kerja Mauji bisa dipresentasikan dengan baik. Ini adalah modal awal yang bagus untuk menggiring penonton ke dalam konflik.

Di babak kedua, ketika konflik mulai digulirkan, penonton mulai terlibat dengan emosi yang ingin disampaikan Sui Dhaaga. Penonton ikut ngos-ngosan saat menyaksikan perjuangan Mauji untuk memperoleh mesin jahit gratis dari pemerintah. Marah ketika Mauji dan istrinya terjatuh. Cemas saat menanti Mauji mengikuti ujian menjahit. Artinya, apa yang telah dimulai Sui Dhaaga di babak awal, berhasil untuk melibatkan emosi penonton dengan film. Meski ada beberapa adegan yang dipaksakan, namun tetap bisa termaafkan, mengingat performa cerita dan para pelakonnya mampu bekerja optimal.

Varun Dhawan sekali lagi membuktikan kemampuan aktingnya. Tak hanya peran konyol seperti kebanyakan filmnya, di Sui Dhaaga dia pun bisa bermain serius (dan dramatis). Tetap konyol sih di film ini, namun perpaduan dramanya juga berhasil.  Sebagai tokoh sentral, aktingnya meyakinkan.

Anushka Sharma, seperti biasanya dia bermain maksimal. Bahkan, beberapa waktu lalu ekpresi marah dan kesalnya sempat menjadi trending 'Meme' di lini masa. Tapi sayang sekali, perannya sebagai istri Mauji kurang tereksplorasi lebih dalam. Latar belakang selain sebagai istri tidak tergali lebih dalam, sehingga terkesan hanya sebagai tempelan untuk kepentingan narasi. Ide cemerlangnya terlalu modern sebagai gadis desa. Bagaimana bisa dia begitu cerdas membuat berbagai design baju, jika tidak memiliki 'bekal' yang cukup memadai dan tidak diungkap lewat dialog ataupun narasi film?




Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url