AKTOR VETERAN JEETENDRA DILAPORKAN KE POLISI ATAS TUDUHAN PELECEHAN SEKS


Berita mengejutkan datang dari aktor lawas, Jeetendra. Aktor yang populer di era ’70 dan
’80an itu baru-baru ini dilaporkan oleh Sepupunya (Namanya disembunyikan) atas tindakan
asusila (pelecehan seks) yang dilakukannya pada dirinya.
Menurut ‘India Today’, korban telah menderita selama bertahun-tahun setelah aktor
‘Himmatwala’, ‘Tohfa’ dan ‘Maqsad’ ini menyerangkan 47 tahun lalu, saat dirinya masih usia
belasan tahun. Dan kini setelah sekian tahun, akhirnya muncul kesadaran dan inspirasi
berkat kampanye #MeToo, untuk mengungkap insiden traumatis ini agar masalah ini bisa
diselesaikan secara adil.
Korban mengatakan bahwa Jeetendra saat itu diduga telah meminta izin dari orang tua korban
untuk membiarkan dirinya menemani korban ke lokasi syuting film yang saat itu dia bintangi.
Menurut korban, seperti yang dilansir India Today, aktor tersebut (Jeetendra) telah
melakukan tindakan asusila padanya tanpa persetujuannya (memaksa).

Menurut korban, saat ini dia baru berani mengambil langkah hukum dengan melaporkannya ke
polisi, karena saat ini orang tuanya telah meninggal dunia. Dia tidak ingin orang tuanya
tahu, karena jika tahu pasti mereka akan sangat menderita. Walau bagaimana, Jeetendra telah
dipercaya, tapi malah melakukan sesuatu hal yang tidak berperasaan terhadap anak perempuan
mereka.
Kini, Korban juga meminta agar identitasnya disembunyikan karena dia takut dengan koneksi
bintang veteran tersebut.Dikhawatirkan banyak fansnya yang akan marah dan tidak terima
dengan berita ini.
Jeetendra sendiri sekarang tidak lagi aktif di industi film. Dia tinggal di Mumbai bersama
istrinya Shobha, putrinya Ekta (yang merupakan bos dari rumah produksi Balaji Telefilms)
dan putranya, Tusshar Kapoor.
Pengacara Rizwan Siddiquee, yang ditunjuk mewakili Jeetendra menyatakan, “Terutama untuk
klien saya secara khusus dan pasti menolak kejadian tersebut. Selain klaim yang tidak
berdasar, konyol dan palsu, sudah pasti tidak dapat lagi diusut oleh Pengadilan Tinggi atau
lembaga penegak hukum lainnya setelah rentang waktu hampir 50 tahun. Menurut Undang-Undang
Keterbatasan tahun 1963, bahwa semua keluhan atau laporan asli dibuat dalam batas waktu
maksimum tiga tahun, sehingga penyelidikan yang tepat bisa dilakukan dan keadilan pun bisa
ditegakkan,”.
“Selain itu, saya ingin secara khusus menjelaskan bahwa undang-undang tersebut tidak
memberi hak atau kebebasan kepada siapapun untuk membuat klaim yang tidak berdasar, konyol
atau palsu terhadap orang lain di depan umum dan berusaha mencemarkan nama baik dia dengan
agenda pribadi yang tersembunyi,” tambahnya.

“Oleh karena itu, Media diminta untuk secara hati-hati tidak memberikan klaim konyol, tak
berdasar dan palsu semacam itu, dan mereka (Paramedia) seharusnya tidak berpartisipasi
memberitakan dengan cara apapun dalam memfitnah atau membunuh karakter seseorang dalam
kasus semacam itu,” jelas sang pengacara. (Melaty Tagore)
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url