Bollywood dan Hikayat Punahnya Musik Yang Enak Didengar


Pernah mendengar lagu Mere Mehbooba-nya Pardes (1997), Dil Neh Ye Kaha Hai Dil Se-nya Dhadkan (2000) Ladki Badi Anjani Hai-nya Kuch Kuch Hota Hai (1998), Humko Humise Churalo-nya Mohabbatein (2000)? Jika iya, dan anda menikmatinya, berarti kita satu selera dan mungkin satu generasi.


Oke, berbicara soal lagu India, kita bukan hanya melirik video klipnya, melainkan juga pada aspek dinamika yang mengiringi prosesnya. Dalam salah satu edisi Majalah Historia, Duta Besar India untuk Indonesia, Jarjit, eh Mr. Gurjit Singh, bahkan menyebut dua hal yang mempersatukan India, rel kereta api yang mengular di berbagai negara bagian, dan sinema Bollywood. Nah, lo! Keren kan…..

Saya tumbuh di era 1990-an, di mana saat itu jagat musik India mencapai puncak keemasannya. Berbagai original soundtrack (OST) filmnya dalam bentuk kaset dapat kita temukan dengan mudah di pasar: dipajang dengan takzim di rak kaca, maupun digelar menggunakan tikar bersanding dengan penjual obat kuat. Bajakan maupun asli, kaset-kaset ini turut memperkaya khazanah permusikan Indonesia bersamaan dengan merajalelanya slowrock Malaysia. Pengelola stasiun radio di berbagai daerah bahkan menyediakan acara khusus musik India.

Di televisi, apalagi, nyaris setiap hari sinema Sungai Gangga menemani hari-hari masyarakat Indonesia. Bahkan, durasi film yang mencapai 3 jam biasanya dipotong dan dibagi dalam tiga hari penayangan di tengah malam. Luar biasa, pemirsa.

Bagi saya, musik Bollywood era 90-an hingga pertengahan 2000-an, adalah perpaduan sempurna antara komposer, pengarang lirik, playback singers, hingga gerak bibir dan ekspresi artis yang dipadupadankan dengan suara playback singer. Ini adalah era pasca kebesaran Kishore Kumar dan Muhammad Rafi. Sebuah fase revolusi sinema yang ditandai dengan tumbuhnya Khan-isme, yaitu film-film yang dijejali wajah tampan para Khan: Shah Rukh, Salman, Aamir, dan Saif Ali, menyusul si Fardeen, dan kini nongol pula si Irrfan yang terlambat moncer. Hahaha…

Generasi para Khan yang mewarnai hampir tiga dekade eksistensi mereka di industri film Mumbai ini klop dengan generasi baru para playback singer bersuara emas; yang ngebas-enak seperti Udit Narayan, sengau-merdu seperti pita suara Kumar Sanu, suara manja-romantis Sonu Nigam, hingga Babul Supriyo, Abhijeet Battacharya, Shankar Mahadevan, Suresh Wadkar, K.K. Lucky Ali, Shaan, Mohit Chauhan, Himesh Reshammiya, Arnab Chakraborty, Roop Kumar Rathod, dan sebagainya.

Pertemuan dua kutub ini semakin meriah dengan adanya para perempuan bersuara merdu. Ada sang ratu Asha Bosle dan Lata Mangeshkar dengan suaranya yang khas, Alka Yagnik, Kavita Khrisnamurthy, Poornima, Shreya Goshal, Anuradha Paudwal, Sadhana Sargam, penyanyi bersuara centil Hema Sardesai, hingga si pelantun Made in India, Alisha Chinai. Generasi emas ini bertambah semarak dengan adanya Sunidhi Chauhan, yang mulai nongol di soundtrack Jaanwar (1999). Semua masih aktif dalam dua dekade terakhir, terkecuali Poornima yang sempat absen lama. Kalau masih asing dengan suara Poornima, silahkan cek youtube lalu cari Sona Kitna Sona Hai, OST film Hero No. 1 (1999). Enak banget, kok.

Komposisi di atas diperkaya dengan racikan para komposer yang karyanya enak didengar karena agak ndangdut, menyertakan alat musik tradisional seperti sitar, sarod, tambura, dholak, tabla dan vina, seruling serta instrument tiup bernama shehnai yang persis alat tiup dalam iring-iringan jaranan dan reog. Seringkali, kekayaan komposisi ini ditambahi dengan suara koor (chorus) pria dan wanita.

Siapakah para peracik musik ini? Mereka adalah legenda. Ada yang solo, seperti Anand Raaj Anand, AR. Rahman, Sandesh Shandaliya, Anu Malik, Himesh Reshammiya, hingga paklik-nya Hrithik Roshan, Rajesh Roshan. Selain itu, ada banyak duet komposer yang berkibar: Anand-Milind, Sanjeev-Darshan, Jatin-Lalit, Nadeem-Shravan, Sajid-Wajid.

Sudah cukup? Belum. Ada kreator lirik lagu. Profesi terakhir ini ditekuni oleh nama-nama besar yang membuat sebuah lagu terasa pas dan nyaman di telinga maupun enak dilafalkan. Anand Bhaksi, Sameer, Gulzar, Javed Akhtar, adalah nama-nama kondang dalam industri Bollywood yang pintar mencipta lirik-lirik prosais yang memikat dan enak dihafal. Sungguh, sebuah komposisi musik yang kaya-raya.

Karya-karya mereka mengiringi keemasan sountrack Bollywood, dan bukan hanya diperdengarkan di India saja, melainkan juga diberbagai kawasan lain. Inilah “penjajahan” paling lembut. Jika ada dominasi militer maupun penjajahan ekonomi, maka negara leluhur Jarjit Singh itu dengan senang hati dan ikhlas akan menjajah menggunakan instrumen musik.

Tak heran jika Rhoma Irama menganggap apabila musik India adalah bagian dari inspirasi dangdut, sebagaimana diamini oleh Elvis Preistley, eh, Elvy(s) Sukaesih. Karena merasa tjotjok dengan gairah musik India, maka Bang Haji Oma Irama pun menjalin pernikahan, eh bukan ding, tapi menjalin kerjasama dengan penyanyi Lata Mangeshkar. “Wahai Pesona” (1997) adalah lagu yang lahir dari duet Bang Haji dan Lata Mangeshkar.

Sebelumnya, Bang Haji Oma dengan gaya berdehemnya yang khas itu mengambil inspirasi dan aransemen musik dari berbagai lagu Bollywood. Lagu Kata Pujangga yang terdapat dalam album Purnama (1992) adalah berdasar nada lagu Mere Mann Ki Ganga yang ada di film Sangam (1964) yang dibintangi Raj Kapoor. Selain itu ada banyak lagu saduran karyanya: Sifana (Jiye to Jiyee), Remaja (Bali Umar Ne Mera), Mardhatillah (Bahut Pyaar Karte Hain), hingga Sohiba (O… Saeba).

Jauh sebelum Bang Haji Oma menggelindingkan karyanya di atas bantalan aransemen musik India, Ellya Khadam merintisnya pada 1960-an, melalui hitsnya, Boneka dari India. Serbuan sinema India pada era 1950-an yang bersaing dengan produksi Hollywood dan buatan dalam negeri, membuat beberapa orkes musik terpengaruh. “Awal 1960-an, lagi-lagu India terjemahan ini meletakkan landasan untuk dangdut, meski nama genre musik ini (dangdut) baru muncul satu dekade kemudian. Para komponis menciptakan lagu-lagu yang diilhami lagu film India, dan juga mengadaptasi lirik Indonesia dengan melodi lagu film India,” tulis Andrew N. Weintraub dalam “Dangdut: Musik, Identitas, dan Budaya Indonesia” (Jakarta: KPG, 2012).

Peniru Paling Ulung: Shah Rukh Khan

Karena musik merupakan bagian tak terpisahkan dari akting, maka seorang aktor-aktris kudu mengepaskan gerak bibir, ekspresi wajah, hingga gestur berdasarkan lagu yang dinyanyikan oleh para playback singers. Contoh nih, suara Kumar Sanu yang enak-sengau itu klop dengan gerak bibir Aamir Khan dalam Dil Keh Ta Hai Chal Unse Mil-nya Akele Hum Akele Tum (1995), suara Udit Narayan yang ngebas merdu itu pas dan serasi dengan gerak bibir dan ekspresi Shah Rukh Khan di video klip Ho Gaya Hai Tujhko To Pyar Sajna dari film Dilwale Dulhaniya Le Jayenge (1997).

Demikian juga suara Sonu Nigam yang pas dengan Akshay Kumar di klip Dil Neh Ye Kaha Hai Dil Se (versi happy)-nya film Dhadkan (2000), atau Salman Khan yang pas umik-umik suaranya Udit Narayan dalam Har Dil Jo Pyaar Karega. Suara renyah Lata Mangeshkar yang pas dengan Maduri Dixit dalam Dholna, suara merdunya Alka Yagnik yang pas dengan Preity Zinta di Chupke Se Sun-nya Mission Kashmir (2002), atau suara Anuradha Paudwal yang pas dengan berkarakter Madhuri Dixit saat menyanyi Bahut Pyaar Karte Hain diiringi piano dalam film Sajaan (1992).

Bagi saya, di antara para aktor besar Bollywood, Shah Rukh Khan adalah peniru paling ulung. Dia bisa umik-umik pura-pura menyanyi menggunakan suara Udit Narayan, Kumar Sanu, Abhijeet, Sonu Nigam, Roop Kumar Rathod, hingga Arijit Singh sama baiknya, disertai dengan ekspresi yang pas. Lagu romantis, lagu pethakilan konyol, model disko, pemilik alis melengkung ini melakoninya dengan ciamik. Mungkin sudah gawan bayi dia bisa menari-nari dengan apik lalu diselingi dnegan gayanya yang khas: membentangkan tangannya sembari memamerkan dadanya yang bidang itu.

Lebih Ngepop

Bollywood mengalami revolusi permusikan yang ditandai dengan semakin banyaknya film yang menghilangkan lagu-lagu di dalamnya. Dulu, durasi film minimal 2,5 jam dengan 40 menit di antaranya dihabiskan untuk 6-7 lagu. Per lagu butuh 6-7 menit.

Kini, banyak film dengan plot yang variatif dan bagus (bukan melulu cinta-cintaan) yang sengaja menghilangkan lagu dan tari. Tampak lebih dinamis, tapi di sisi yang lain melenyapkan ciri khas Bollywood. Beberapa film thriller babar blas tidak ada lagu utama, kalaupun ada sifatnya sebagai pengiring, yang itupun nggak nyaman di telinga. Drishyam, Talaash, Rahsya, Mardaani, Kahaani (1 dan 2), Pink hingga Baby beserta sekuelnya, Naam Shabana, membuktikannya.

Ada juga film yang bagus, tapi lagunya nggak bisa nempel di ingatan. Misalnya, garapan Aamir Khan. Dari Tare Zameen Paar, 3 Idiots, Ghajini, Talaash, P.K., dan Dangal, kualitasnya pantas diacungi dua jempol. Tapi soal lagu-lagu di dalamnya, saya haqqul yaqin, di antara kita nggak ada yang bakalan hafal dan bisa karaokean dengan lagu-lagu di film-film tersebut.

Beberapa film yang dibintangi Shah Rukh Khan, masih lumayan. Kualitasnya ada yang tidak begitu bagus, tapi bisa ditunjang dengan kualitas lagu dan video klip yang asyik. Ayolah, di antara kita ada yang bisa karaokean dengan lagu Tujh Mein Rab Dekha Hai-nya Rabne Bana Di Joodi, kan? Atau umik-umik menirukan Gerua, OST-nya Dilwale itu, sefasih menirukan lagu-lagunya Kangen Band, kan?

Revolusi permusikan di atas sebenarnya bisa dimaklumi. Karena Bollywood adalah industri, maka mereka punya hukum tersendiri: populer-jeblok, laris-sepi job, generasi tua-muda. Semua saling berotasi menjadi sebuah siklus yang berulang. Siapa yang tidak menyesuaikan diri dengan dinamika zaman, siap-siap tersingkir. Menepi dengan takzim.

Maka, generasi berselera jadul seperti saya harus tahu diri jika sulit menemukan suara-suara emas era lawas bersenandung di film-film paling gres.

Saya menduga, sejak 2010-an, nama-nama komposer besar, baik yang bersolo karier maupun duet, mulai tersingkir. Beberapa duet komposer favorit saya, memutuskan pecah kongsi, seperti Jatin-Lalit dan Nadeem-Shravan. Sisanya, entah kemana.

Para sesepuh playback singer angkatan Udit Narayan dan Alka Yagnik juga sudah mulai jarang nongol. Arijit Singh, Atif Aslam, Mithoon, Vishal Dadlani, Aditi Singh Sharma, Nakash Aziz, Pritam, Monali Thakur, hingga Antara Mitra, mulai mengkudeta posisi mapan mereka dengan suguhan lagu yang minmalis: ngepop, minim instrumen musik tradisional, cengkok yang tidak se-ndangdut para sesepuhnya, tidak ada lagi koor (chorus) yang khas, dan tentu saja komposisi musiknya tidak sekaya generasi 90-an.

Oke, mungkin ini soal selera. Saya lebih berminat pada genre yang lebih klasik, memegang teguh status quo musikalitas Bollywood, dan tidak bisa move on dari gaya bermain para musisi India sebelum pergantian millennium. Tapi, apapun itu, gaes, musik Bollywood saat ini terasa membosankan. Ini pendapat saya, lho. Anda bisa setuju, bisa tidak.

Yang pasti, dari uraian di atas, pertanyaan pentingnya adalah: benarkah Jarjit pernah menjadi kolektor kecebong?

-----------
Penulis : Rijal Mumazziq Z 
Pecinta Bollywood dari Surabaya 
Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url