Review Film: Most Eligible Bachelor

Akhil Akkineni, aktor film India yang populer di Indonesia berkat filmnya yang berjudul Hello/Taqdeer (2017). Di film itu dia mencari gadis yang dicintainya sejak masa kanak-kanak. Mereka terpisah karena orang tua yang pindah tugas ke daerah lain.

Di film terbarunya yang berjudul Most Eligible Bachelor, Akhil kembali mencari gadis yang bakal jadi pasangan hidupnya. Tak tanggung-tanggung, calon istrinya itu 20 orang!

Bagaimana cerita dan ulasan film Most Eligible Bachelor ini?

Setelah membaca artikel ini, silahkan ditonton film Most Eligible Bachelor tayang di aha sejak 19 Nopember 2021.

Sinopsis Film Most Eligible Bachelor

Harsha (Akhil Akkineni) seorang pemuda yang telah hidup mapan di AS; dia telah memiliki rumah dan pekerjaan bergaji tinggi. Mapan secara ekonomi, Harsha dianggap oleh orang tuanya telah memenuhi syarat untuk menikah. 

Ayahnya menyuruh Harsha ke India untuk tujuan perjodohan yang telah diatur keluarganya. Percaya diri tentang status kemapanannya,  Harsha dan keluarganya mulai berburu calon pengantin. Tak tanggung-tanggung, daftar wanita calon istrinya 20 orang.

Harsha dan keluarganya mendatangi satu-persatu daftar calon itu. Tiga orang pertama semuanya cocok dengan pikiran Harsha. Sampai dia bertemu Vibha. Salah satu wanita yang ditolak keluarganya karena bintangnya tidak cocok dengan Harsha.

Vibha (Pooja Hegde) adalah seorang stand-up komedian. Materi komedinya selalu mengkritisi tentang pernikahan. Saat menonton show-nya, Harsha tertarik pada Vibha. Setelah mengobrol, Harsha makin tertarik dengan sikap Vibha yang ceplas-ceplos.

“Apa yang kamu harapkan dari kehidupan pernikahan?” tanya Vibha pada Harsha saat mereka pertama kali bertemu. 

Harsha menjawab dengan banyak jawaban, tapi Vibha merasa bosan dengan jawaban normatif yang bisa ditebak.Bukan itu.

Vibha meminta Harsha untuk menemukan jawabannya. Sekaligus memberi isyarat bahwa dia akan jatuh cinta pada orang yang bisa menjawab dan mewujudkan jawabnnya dengan benar.

Bagaimana kisah selanjutnya?

Saksikan sendiri komedi romantis ini.

Review Film Most Eligible Bachelor

Most Eligible Bachelor; Bujangan Mapan Paling Layak jadi suami. Dalam terjemahan bebas, saya lebih suka mengartikannya "Jomblo Paling Mapan". 😀😀😀

Narasi Film

Kita diperkenalkan kepada Harsha sebagai seseorang yang memiliki konsep jelas tentang pasangan hidupnya. Tapi, konsep itu menjadi kabur ketika dia bertemu Vibha. Konsep pernikahan ala Vibha sangat kontras dengan Harsha. 

Film ini adalah tentang bagaimana mereka saling memahami konsep masing-masing agar sebuah pernikahan bisa sukses dan bahagia selamanya. Ini adalah premis yang hebat, —meskipun klise.

Sebagaimana pakem umum film romantis, yang mengharuskan tokoh utama bahagia selamanya,  Most Eligeble Bachelor (MEB) pun demikian. Tak ada kebaruan dalam cerita. 

Konflik utamanya adalah konsep pernikahan yang berbeda, dari sudut pandang orang yang belum menikah. MEB hanya ingin mengkritisi budaya perjodohan dan pola pikir masyarakat India terkait institusi pernikahan. 

Sayangnya, sudah banyak film sejenis ini. Dilwale Dulhania Le Jayenge, Humpty Sharma Ki Dulhania, dan Badrinath Ki Dulhania adalah beberapa contoh film bollywood yang mengkritisi tentang budaya perjodohan, mahar, ataupun latar belakang budaya yang berbeda.

Masalahnya, saya suka jenis film seperti ini. 🤭🤭🤭

Dari sini saya bisa belajar banyak hal. Minimal, saya bisa tahu budaya India dan berbagai kebiasaan yang dilakukan masyarakat di sana, hanya melalui film.

MEB ini tidak mengkritisi budaya atau kebiasaan yang terjadi di India. Film ini hanya ingin menyampaikan pandangan yang berbeda tentang pernikahan. Menikah itu bukan hanya tentang kemampuan menyesuaikan diri dengan pasangan, tetapi juga tentang romansa yang tetap terjaga sejak masa sebelum menikah hingga setelah menikah.

Melalui karakter-karakter yang ada di sekitar Harsha dan Vibha, penonton akan melihat bahwa hilangnya romansa ini berdampak fatal. Seperti yang terjadi pada kakak Harsha, misalnya. Atau rekan kerja Harsha. Penonton disuguhi banyak contoh kasus yang terjadi itu disebabkan karena konsep pernikahan yang selama ini dianggap benar, ternyata tidak selamanya benar.

Dari sudut pandang konsep ini, saya suka.

Di atas kertas, konsep dan cerita romantis ini terlihat menarik. Tapi sayangnya disajikan dengan cara yang agak membingungkan. Babak pertama sepenuhnya dikhususkan untuk acara mencari jodoh yang pas bagi Harsha. Mengahdiri pertemuan keluarga calon, —20 orang, dan sedikit interaksi dengan karakter utama wanita Pooja Hegde alias Vibha. 

Babak kedua berbalik arah 180°. Proses transformasi dan perubahan karakter Harsha yang percaya diri, lalu ragu, dan akhirnya menyadari bahwa apa yang dia yakini tidak sepenuhnya benar. Momen -momen ini terlalu singkat. Dampaknya, beberapa adegan yang seharusnya bisa berdampak emosional, terasa biasa saja.

Jangan kuatir, MEB masih memiliki beberapa momen yang terasa hangat, juga bikin terharu. Apa? 

Saksikan sendiri, wew😝😝😝

Peran 

Akhil Akkineni, masih setia dengan karakternya seperti di film Taqdeer. Tak banyak perubahan. Dia masih berperan sebagai anak yang baik bagi orang-tuanya. Hanya beberapa tampilan rambut kribo-nya saja yang berubah.

Saya lebih suka akting Pooja Hegde sebagai Vibha. Dia sukses membuat saya jatuh cinta pada karakternya. 😍😍😍. Hal yang tak saya dapati ketika dia berperan sebagai pasangan Mahesh Babu di film Maharshi (2019). Vibha itu Cerdas, mandiri, tegas, tapi juga rapuh di sisi yang lain. 

Adegan saat dia ketakutan, lalu tertidur sambil mendengarkan seseorang di hape-nya menyanyi itu... Duh.... 

Upsh🤭.. sop iler.. skip >>> skip>>> ⛔

Aktor lainnya? Mereka hanya karakter pelengkap untuk keperluan narasi agar film bergerak menuju akhir. 

Lagu

Beberapa lagunya saya suka. Lagu berjudul 'Chitti Adugu' saat pertama kali mendengarkannya, saya langsung suka. Ada nuansa Bulleya-nya Ae Dil Hai Mushkil. Agak nge-rock dangdut, gitu.

 


Lagu-lagu lainnta pun enak. Setidaknya saya bisa sedikit beristirahat dari kebiasaan mendengarkan suara Jubin Nautiyal, Stebin Ben, atau Darshan Raval.

Penutup

Sebagai sebuah film romantis, Most Eligible Bachelor masih mengikuti pakem lama. Endingnya pasti, tak perlu ditebak-tebak. Babak pertama dipenuhi dengan komedi, sementara di babak kedua adalah penuh momen romantis.

Jika Anda suka film romantis tanpa mempedulikan plot hole, Most Eligible Bachelor akan terasa cocok buat Anda.

Saksikan Most Eligible Bachelor di saluran OTT aha. Atau disini.

Next Post Previous Post
No Comment
Add Comment
comment url